PALANGKA RAYA, TABALIEN.com – Perubahan sistem pangan kerap dibahas melalui kebijakan dan industri. Namun, perubahan juga dapat bermula dari tingkat rumah tangga, melalui keputusan tentang bahan makanan yang dibeli, dimasak, dan disajikan setiap hari.
Dalam konteks tersebut, perempuan memiliki peran penting dalam membentuk kebiasaan pangan keluarga. Peran itu tidak hanya berkaitan dengan kegiatan memasak, tetapi juga pengelolaan anggaran, pemilihan bahan makanan, serta pembentukan pola makan anak.
Hal tersebut menjadi bagian dari tulisan World Resources Institute (WRI) Indonesia yang dibuat oleh Annisa Nisitha Nindyarini dan Sakinah Ummu Haniy, dan dipublikasikan pada 6 Agustus 2026.
WRI Indonesia didirikan di Indonesia dengan nama Yayasan Institut Sumber Daya Dunia. Lembaga kajian independen tersebut mendorong pembangunan sosio-ekonomi nasional secara inklusif dan berkelanjutan.
Dalam tulisan tersebut, sejumlah pengalaman di tingkat rumah tangga dan komunitas digunakan untuk menunjukkan bagaimana praktik pangan dapat berkembang dari ruang domestik.
Perempuan dan keputusan pangan keluarga
Riset yang dikutip dalam tulisan menunjukkan perempuan, terutama ibu dan nenek, memiliki peran besar dalam keputusan pangan keluarga. Pengetahuan, pengalaman, dan kebiasaan yang diterapkan sehari-hari turut membentuk cara keluarga memilih dan mengelola makanan.
Pengetahuan tentang gizi seimbang juga disebut berkaitan dengan kualitas hidup keluarga, terutama bagi anak yang sedang tumbuh. Keterampilan ibu dalam pengelolaan makanan rumah tangga berkaitan dengan peningkatan status gizi anak serta berkontribusi pada pencegahan gizi buruk, stunting, dan penyakit terkait gizi lainnya.
Salah satu contoh dalam tulisan tersebut adalah pengalaman Britania Sari, seorang ibu dan guru bahasa Prancis.
Saat pandemi Covid-19, Sari mulai membagikan bahan pangan segar kepada warga sekaligus mendorong pemanfaatan dapur rumah tangga sebagai sumber makanan bergizi.
Inisiatif itu kemudian berkembang menjadi kebun warga. Bersama suaminya, Sari mengajak warga memanfaatkan halaman rumah untuk menanam bayam, kangkung, rimpang, dan berbagai tanaman lainnya.
Sari juga beternak ayam dengan menggunakan pakan berupa buah dan sayuran layu. Bahan tersebut diperoleh secara gratis dari pedagang langganannya di pasar.
Hasil kebun, ternak, dan bahan pangan murah kemudian menjadi sumber penyediaan pangan bagi kegiatan tersebut.
Pada awalnya, Sari membiayai program secara mandiri. Dalam perkembangannya, program diperkuat melalui donasi publik.
Pangan yang dihasilkan dibagikan secara gratis melalui paket pangan rutin kepada ibu hamil dan menyusui, balita, serta keluarga prasejahtera.
Paket tersebut berisi sayur, telur, tahu, tempe, buah, dan bahan pangan lain yang menunjang gizi keluarga. Kegiatan itu sekaligus menjadi ruang edukasi bagi keluarga dalam mengelola pangan sehat.
Dari dapur hingga komunitas
Contoh lainnya terlihat dalam pelatihan kader Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) di Kota Bandung yang diselenggarakan WRI Indonesia melalui program Urban Futures.
Para peserta hadir sebagai kader sekaligus ibu dan penggerak lingkungan. Mereka membagikan pengalaman dalam mengurangi sisa pangan dari dapur masing-masing.
Salah satu peserta menceritakan pemanfaatan sisa nasi untuk diolah kembali menjadi camilan. Peserta lainnya memanfaatkan minyak jelantah menjadi sabun atau produk lain agar tidak langsung dibuang.
Bagian tanaman yang sering dianggap sebagai limbah, seperti bonggol nanas dan kulit buah, juga dimanfaatkan kembali untuk ditanam atau diolah menjadi mikroorganisme lokal yang berguna bagi tanaman.
Praktik serupa juga diterapkan dalam keseharian tim WRI Indonesia. Sri Noor Chalidah, Food System Senior Lead di WRI Indonesia, berupaya membangun kebiasaan makan sehat di keluarganya dengan rutin memasak menggunakan bahan segar dan lokal.
Bahan makanan tersebut dibeli setiap minggu dari tukang sayur atau pasar terdekat. Noor juga sering menyiapkan makanan sejak pagi dan memasak beberapa hidangan sebelum bepergian dinas agar tetap dapat dikonsumsi suami dan anaknya.
Dukungan ibunya turut membantu menjaga kebiasaan tersebut ketika Noor sedang tidak berada di rumah.
Kesadaran Noor berawal dari pengalaman ketika anaknya belum mampu mencapai berat badan ideal. Upaya menyediakan makanan bergizi seimbang tidak langsung menunjukkan hasil dalam jangka pendek.
Pengalaman tersebut membuat Noor melihat dampak kesehatan dari perspektif ekonomi. Gangguan kesehatan tidak hanya dapat menimbulkan biaya pengobatan, tetapi juga biaya tidak langsung, seperti kebutuhan perawatan tambahan, kehilangan waktu kerja, dan pengeluaran kesehatan yang lebih besar dalam jangka panjang.
Karena itu, bagi Noor, memilih makanan sehat sejak awal merupakan investasi yang masuk akal.
Pandangan tersebut juga diperkuat oleh riset yang dipelajari Noor, khususnya mengenai global dietary convergence, yaitu perubahan pola makan global yang semakin seragam tetapi cenderung tidak sehat.
Berbagai studi menunjukkan pola makan tersebut dapat meningkatkan risiko penyakit tidak menular, termasuk kanker. Temuan itu semakin menguatkan pandangan bahwa menjaga pola makan sehat sejak dini berkaitan dengan kesehatan dan konsekuensi ekonomi jangka panjang.
Memperbesar dampak dari rumah
Berbagai pengalaman tersebut menunjukkan perubahan sistem pangan dapat berawal dari praktik sederhana di rumah. Dapur menjadi ruang penting untuk membentuk kebiasaan makan, cara mengelola pangan, dan nilai tentang kesehatan keluarga.
Kebiasaan yang dimulai dari rumah memang terlihat kecil, tetapi dapat berkembang menjadi perubahan yang lebih besar. BJ Fogg dalam bukunya pada 2020 menegaskan bahwa membangun kebiasaan kecil dapat menjadi jalan menuju kebiasaan yang lebih besar.
Pilihan untuk membangun kebiasaan makan berkesadaran, seperti mengurangi makanan olahan atau memanfaatkan bahan pangan segar, dapat mendorong terbentuknya kebiasaan yang lebih luas.
Agar praktik baik dari rumah tangga dan komunitas dapat berkembang secara berkelanjutan, diperlukan kondisi yang mendukung.
Pertama, partisipasi perempuan dalam pengambilan keputusan terkait pangan perlu diperluas. Penelitian menunjukkan keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan rumah tangga berkaitan dengan hasil gizi anak dan ketahanan pangan keluarga.
Rumah tangga yang melibatkan perempuan dalam keputusan penting memiliki risiko malnutrisi anak yang lebih rendah dibandingkan rumah tangga yang tidak melibatkan perempuan.
Karena itu, perencanaan program pangan perlu membuka ruang partisipasi perempuan secara lebih inklusif agar kebijakan yang dihasilkan lebih tepat sasaran.
Kedua, pemerintah, penyedia layanan kesehatan dan pendidikan, dunia usaha, serta komunitas perlu menciptakan dukungan struktural bagi keluarga pada masa awal kehidupan anak.
Seribu hari pertama kehidupan merupakan periode penting untuk membangun kebiasaan makan sehat. Kebijakan yang memberi ruang bagi orang tua untuk mendampingi masa tumbuh kembang anak, seperti cuti melahirkan yang memadai atau kebijakan bekerja dari rumah, dapat membantu keluarga membangun pola makan sehat sejak dini.
Ketiga, lebih banyak cerita mengenai praktik baik perempuan perlu disebarkan agar dapat menginspirasi masyarakat. Pengaruh sosial menjadi salah satu faktor dalam perubahan perilaku terkait kesehatan.
Media sosial dapat digunakan untuk berbagi pengalaman dan memperluas informasi mengenai praktik baik yang berkembang secara informal. Hal tersebut juga dapat mendorong munculnya inisiatif serupa di berbagai tempat.
Namun, informasi mengenai pangan bergizi tetap perlu disaring secara bijak dengan mengacu pada sumber tepercaya agar relevan dengan konteks lokal.
Tanggung jawab bersama
Perempuan memiliki peran penting dalam sistem pangan. Namun, pembangunan sistem pangan yang lebih sehat dan berkelanjutan tidak seharusnya bertumpu pada perempuan saja.
Pengelolaan pangan di tingkat rumah tangga idealnya menjadi tanggung jawab bersama dalam keluarga.
Penelitian menunjukkan keterlibatan ayah dalam aktivitas makan keluarga dan pemberian makanan kepada anak dapat memengaruhi pola makan serta kebiasaan nutrisi anak dan keluarga.
Ketika tanggung jawab tersebut dipikul bersama dan mendapatkan dukungan dari pembuat kebijakan serta pemangku kepentingan lainnya, perubahan yang dimulai dari dapur rumah tangga dapat menjadi fondasi bagi sistem pangan yang lebih adil, sehat, dan berkelanjutan.
Sumber: WRI Indonesia
Penulis asli:
Annisa Nisitha Nindyarini, Communications Officer WRI Indonesia
Sakinah Ummu Haniy, Senior Communications Coordinator WRI Indonesia
Tanggal publikasi sumber: 6 Agustus 2026
