PALANGKA RAYA, TABALIEN.com – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Palangka Raya masih menghadapi tekanan tinggi. Infografik BPBD Kota Palangka Raya pada Kamis (17/9/2026) mencatat 68 entri lokasi penanganan, sementara dampak kabut asap mulai terlihat pada kesehatan masyarakat.
Di tengah banyaknya lokasi yang harus ditangani, persoalan biaya operasional dan kondisi sarana pemadaman turut menjadi sorotan DPRD. Pada saat yang sama, Dashboard Karhutla Kota Palangka Raya mencatat 66 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang dilaporkan delapan puskesmas.
BPBD Catat 68 Lokasi Penanganan Karhutla
Data lapangan BPBD Kota Palangka Raya memberikan gambaran mengenai persebaran wilayah yang ditangani petugas. Sebanyak 68 entri lokasi penanganan tercantum dalam infografik pembaruan 17 September 2026.
Angka tersebut merupakan lokasi penanganan, sehingga tidak serta-merta dapat dimaknai sebagai 68 kebakaran berbeda. Sejumlah nama jalan muncul lebih dari sekali dan beberapa entri tidak mencantumkan nama kelurahan.
Berdasarkan kelurahan yang tercantum, Bukit Tunggal mencatat jumlah terbanyak dengan 12 entri. Petuk Katimpun berada di urutan berikutnya dengan sembilan lokasi dan Kereng Bangkirai delapan lokasi.
Menteng tercatat enam lokasi. Kalampangan, Palangka, Sabaru, dan Marang masing-masing lima lokasi, sedangkan Panarung tiga dan Tanjung Pinang satu lokasi. Sebanyak sembilan entri lainnya tidak mencantumkan nama kelurahan.
Lokasi penanganan tersebar di antaranya di Jalan Hiu Putih Lanjutan, Tjilik Riwut, Petuk Katimpun, Pasendeng, G. Obos, Karanggan, Yusuf Arimatea, Nagasari dan Manduhara.
Sembilan entri yang tidak mencantumkan kelurahan yakni Jalan Hiu Putih Lanjutan depan pembibitan, Jalan Hiu Putih Lanjutan dekat Koramil, Jalan RTA Milono Km 6, Jalan Mahir Mahar Km 8, Jalan Yusuf Arimatea Km 12 Ujung, Jalan Yusuf Arimatea Ujung titik ke-3, Jalan Yusuf Arimatea Kuburan Katolik, Jalan Adonis Samad seberang Bandara Tjilik Riwut, serta Jalan Kr Mukhtar 1B.
Total Lahan dalam Pembaruan Tercatat 0,88 Hektare
Data BPBD Palangka Raya
68 Lokasi Penanganan Karhutla di Palangka Raya
Sebaran berdasarkan kelurahan yang tercantum dalam
infografik BPBD Kota Palangka Raya,
update Kamis, 17 September 2026.
68 LOKASI
Entri lokasi penanganan
Bukit Tunggal, terbanyak
Total lahan terbakar
1 Posko + 6 Pos Lapangan
lokasi
lokasi
lokasi
lokasi
lokasi
lokasi
lokasi
lokasi
lokasi
lokasi
lokasi
penanganan karhutla pada infografik BPBD Kota Palangka Raya,
bukan jumlah titik api atau hotspot satelit.
Nama jalan yang muncul lebih dari sekali tetap dihitung sesuai
daftar resmi BPBD.
Empat lokasi dalam daftar BPBD mencantumkan luas lahan secara khusus. Jalan Yusuf Arimatea Kuburan Katolik tercatat 0,26 hektare, Jalan Dunis Tuan di Petuk Katimpun 0,11 hektare, Jalan AMD di Petuk Katimpun 0,06 hektare, serta Katimpun Permai 0,20 hektare.
Total empat lokasi tersebut mencapai 0,63 hektare. Namun, panel informasi BPBD mencatat total lahan terbakar pada pembaruan itu sebesar 0,88 hektare, sehingga tidak semua luas lahan dirinci pada daftar lokasi.
Panel BPBD juga mencantumkan adanya satu Pos Komando dan enam Pos Lapangan. Dukungan kesehatan, pencarian dan penyelamatan oleh Basarnas, serta logistik juga tercatat tersedia.
Angka 0,88 hektare tersebut berbeda periode dengan data kumulatif karhutla Palangka Raya sejak 1 Juni hingga 16 September 2026. BPBD sebelumnya mencatat luas lahan terbakar secara kumulatif mencapai 1.201,15 hektare dari 567 kejadian.
DPRD Soroti Biaya Operasional Mesin Pemadam
Penanganan karhutla juga dibahas dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi III DPRD Kota Palangka Raya bersama pemerintah kota di Ruang Rapat Paripurna, Rabu (16/9/2026).
Anggota Komisi III DPRD Kota Palangka Raya Arif M Norkim menyoroti kesiapan pemerintah menghadapi karhutla dan meminta anggaran penanganan dipastikan tersedia, termasuk melalui APBD Perubahan.
Sorotan tersebut berkaitan dengan kebutuhan biaya operasional petugas di lapangan. Berdasarkan laporan yang diterima dewan, sekitar lima hingga enam mesin pemadam bantuan pemerintah maupun sektor swasta tidak dapat dioperasikan maksimal karena kendala biaya operasional, termasuk bahan bakar.
“Persoalan ini harus segera dicarikan jalan keluarnya. Terlebih, titik api baru terus bermunculan di sejumlah wilayah dan ancaman Karhutla ini belum benar-benar berakhir,” kata Arif.
Keterbatasan biaya operasional mesin pemadam dan kesiapan anggaran memang menjadi salah satu pembahasan dalam RDP Komisi III DPRD Kota Palangka Raya dengan pemerintah kota pada 16 September 2026.
Arif juga meminta masyarakat meningkatkan kesadaran untuk mencegah kebakaran. Menurutnya, penanganan karhutla tidak dapat hanya dibebankan kepada petugas pemadam dan pemerintah.
BPBD Sebut Kondisi Masuk Tahap Krisis

Pelaksana Tugas Kepala BPBD Kota Palangka Raya Hendrikus Satria Budi menyatakan eskalasi karhutla telah memasuki tahap krisis. Rentetan kebakaran disebut telah berlangsung selama kurang lebih tiga bulan dan masih menjadi perhatian utama pemerintah.
Mitigasi telah dilakukan, termasuk penetapan status siaga oleh Wali Kota Palangka Raya berdasarkan proyeksi BMKG mengenai musim kemarau ekstrem yang datang lebih awal.
Dalam keterangan tersebut, kondisi juga disebut diperparah fenomena El Nino yang diprediksi baru mereda pada pertengahan Oktober. Hujan lokal yang sesekali turun dinilai belum mampu memadamkan kebakaran secara menyeluruh.
Budi menyatakan karhutla di Palangka Raya tidak hanya dipicu kondisi alam. Berdasarkan data lapangan yang disampaikan dalam sumber, mayoritas kebakaran disebut berkaitan dengan aktivitas manusia sehingga pemadaman perlu berjalan bersama upaya perubahan perilaku masyarakat.
Tantangan petugas juga semakin berat karena kebakaran mulai mendekati sejumlah ruas jalan vital, termasuk kawasan Kilometer 13 dan Kilometer 23.
Kabut asap di sekitar jalur tersebut dikhawatirkan mengganggu jarak pandang dan transportasi.
“Memang ada sejumlah kendala, mulai dari sarana prasarana yang jebol hingga susahnya mencari sumber air. Terkait anggaran operasional pemadaman, saat ini komunikasi antara Pemko dan DPRD terus berjalan dengan baik untuk menyelesaikannya,” kata Budi.
Kabut Asap Mulai Berdampak pada Kesehatan
Dampak karhutla kini tidak hanya terlihat pada luas lahan dan operasi pemadaman. Kabut asap yang menyelimuti Palangka Raya mulai memengaruhi kesehatan masyarakat.
Puskesmas Menteng mencatat peningkatan gangguan saluran pernapasan, terutama ISPA. Pelaksana Tugas Kepala Puskesmas Menteng Didik Purwanto mengatakan pelayanan tetap berjalan seperti biasa, dengan tambahan ruang oksigen yang dibuka selama 24 jam.
Puskesmas juga membagikan masker gratis kepada masyarakat yang datang mendapatkan pelayanan kesehatan. Didik mengatakan ada peningkatan kasus gangguan saluran pernapasan yang perlu diwaspadai, khususnya pada kelompok rentan.
Anak-anak, lanjut usia dan ibu hamil menjadi kelompok yang memerlukan perhatian lebih. Mereka juga menjadi prioritas untuk memanfaatkan layanan ruang oksigen apabila membutuhkan penanganan.
Data Dashboard Karhutla Kota Palangka Raya per 17 September 2026 mencatat 66 kasus ISPA dari delapan puskesmas. Informasi mengenai peningkatan gangguan pernapasan dan kesiagaan ruang oksigen 24 jam di Puskesmas Menteng juga dipublikasikan melalui kanal pemerintah.
Didik mengimbau masyarakat menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah, menjaga kebersihan dan kondisi kesehatan, serta mengurangi aktivitas luar ruangan apabila tidak mendesak.
“Jika tidak ada keperluan yang benar-benar diperlukan, sebaiknya tetap berada di dalam rumah. Apabila muncul gejala seperti sesak napas atau gangguan pernapasan lainnya, segera datang ke Puskesmas atau fasilitas pelayanan kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan,” ujarnya.
