Pesta Babi Diputar, Antusiasme dan Respons Emosional Warnai Nobar
PALANGKA RAYA, TABALIEN.com – Kegiatan Nobar Pesta Babi digelar Komunitas Swarapena bersama sejumlah organisasi pemuda dan masyarakat sipil di Palangka Raya, Sabtu, 2 Mei 2026. Pemutaran film berlangsung di Aula Asrama Himpunan Mahasiswa Papua dan dihadiri puluhan peserta.
Panitia menyiapkan acara nonton ini dengan estimasi 50 penonton, namun jumlah peserta yang hadir melampaui perkiraan melampaui 100 orang. Beberapa bahkan hanya bisa melihat dari balik kaca jendela. Antusiasme ini juga terlihat dari keterlibatan aktif peserta dalam sesi diskusi setelah pemutaran film.
Kegiatan ini merupakan kolaborasi berbagai organisasi, di antaranya Swarapena, Yakuzapedia, WALHI Kalimantan Tengah, AMAN Kalteng, Save Our Borneo, Progress, DPC GMNI Palangka Raya, HMI Koordinator Komisariat Universitas Palangka Raya, serta Ikatan Pelajar Mahasiswa Kotawaringin Timur Palangka Raya dan Himpunan Mahasiswa Papua (Himapa).
Usai pemutaran, respons peserta beragam. Sebagian menyampaikan pandangan kritis, sementara lainnya menunjukkan respons emosional terhadap adegan yang ditampilkan.
“Saya merasa sedih melihat hutan ditebang dan dampaknya terhadap satwa serta kehidupan masyarakat,” ujar Mansidu Putri, mahasiswa Kehutanan Universitas Palangka Raya.
Peserta lain menilai film tersebut membuka ruang diskusi terkait kebijakan pembangunan. “Film ini memberi gambaran kondisi masyarakat dan mendorong kita memahami dampak program pembangunan,” ujar Muhammad Syahban, Ketua IPMK Palangka Raya.
Janang Firman Palanungkai dari WALHI Kalimantan Tengah menyebut isu dalam film memiliki keterkaitan dengan kondisi di daerah lain. “Apa yang ditampilkan mengingatkan pada persoalan lingkungan yang pernah terjadi di Kalimantan Tengah,” ujarnya.
Selain itu, Rosalinda, salah satu peserta, mengaku tersentuh saat menyaksikan adegan tertentu. “Saya merasa sedih melihat kondisi kehidupan masyarakat di wilayah yang dihajar proyek negara,” ujarnya.
Koordinator Komisariat HMI Universitas Palangka Raya, Ahmad Suhairi, menilai kegiatan Nobar Pesta Babi menjadi sarana pembelajaran bagi mahasiswa. Ia berharap diskusi semacam ini dapat meningkatkan pemahaman terhadap dampak kebijakan pembangunan.
Film dokumenter Pesta Babi mengangkat isu lingkungan, masyarakat adat, serta dampak kebijakan pembangunan di Papua. Film ini menyoroti perubahan lanskap hutan dan ruang hidup masyarakat adat akibat aktivitas pembangunan berskala besar.
Dalam alurnya, film menggambarkan relasi antara proyek pembangunan dan keberlanjutan lingkungan. Sejumlah adegan menampilkan perubahan kondisi hutan, serta dampaknya terhadap sumber penghidupan dan budaya masyarakat setempat.
Film ini diproduksi melalui kolaborasi Jubi.id, Greenpeace, Pusaka Bentala Rakyat, Watchdoc, dan LBH Papua Merauke. Produksi dokumenter ini melibatkan tim kreatif dari Watchdoc sebagai rumah produksi, yang dikenal memproduksi film dokumenter isu sosial dan lingkungan.
Sejumlah pihak terlibat dalam proses produksi sebagai produser dan tim kolaboratif lintas organisasi, meski tidak semua nama individu kru dicantumkan dalam materi publik kegiatan. Film ini menempatkan pendekatan visual dokumenter untuk menyampaikan perspektif advokasi lingkungan dan hak masyarakat adat.









