Harga Sawit Turun, Disbun Kalteng Pantau Dampaknya
PALANGKA RAYA, TABALIEN.com – Pelemahan harga minyak sawit mentah atau crude palm oil dalam beberapa pekan terakhir mulai menjadi perhatian Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah.
Koreksi harga CPO di pasar global dikhawatirkan ikut menekan harga buah sawit di tingkat petani dan pelaku usaha perkebunan.
Berdasarkan pergerakan harga komoditas, CPO acuan di Bursa Malaysia berada pada level 4.458 ringgit Malaysia per ton pada Kamis, 21 Mei 2026. Dengan kurs sekitar Rp4.460,67 per ringgit Malaysia, nilai itu setara sekitar Rp19,88 juta per ton.
Harga tersebut turun dibandingkan posisi awal Mei 2026. Pada 5 Mei 2026, CPO masih berada di kisaran 4.690 ringgit Malaysia per ton atau sekitar Rp20,92 juta per ton.
Artinya, dalam kurang dari tiga pekan, harga CPO turun sekitar 232 ringgit Malaysia per ton. Nilainya setara kurang lebih Rp1,03 juta per ton.
Pada perdagangan Jumat, 22 Mei 2026, harga CPO sempat naik tipis ke level 4.496 ringgit Malaysia per ton. Nilainya sekitar Rp20,06 juta per ton.
Namun, kenaikan itu belum sepenuhnya menghapus tekanan harga pada perdagangan sebelumnya.
Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Tengah, H. Rizky Ramadhana Badjuri, mengatakan penurunan harga CPO sudah berdampak pada harga buah sawit di sejumlah daerah.
“Imbas turunnya harga CPO ini membuat harga buah sawit di daerah mengalami penurunan harga. Kami juga akan terus memantau perkembangannya, sehingga penurunan harga CPO ini tidak berdampak signifikan bagi masyarakat Kalimantan Tengah,” ujar Rizky.
Rizky mengatakan pemantauan perlu dilakukan karena Kalimantan Tengah merupakan salah satu daerah dengan wilayah perkebunan sawit yang luas.
Menurut dia, perubahan harga CPO di pasar global berpotensi memengaruhi rantai ekonomi sawit di daerah.
“Mengingat Kalteng merupakan daerah dengan lokasi perkebunan sawit terluas, perkembangan harga ini perlu terus diawasi,” katanya.
Penurunan harga CPO biasanya berpengaruh terhadap harga tandan buah segar di tingkat petani. Jika tekanan harga berlangsung lama, dampaknya dapat dirasakan oleh petani, pabrik kelapa sawit, hingga pelaku usaha sektor hilir.
Pasar sawit juga dipengaruhi permintaan ekspor, harga minyak nabati lain, kebijakan perdagangan komoditas, serta pergerakan nilai tukar rupiah.
Bagi Kalimantan Tengah, stabilitas harga sawit menjadi isu penting karena sektor perkebunan berperan dalam aktivitas ekonomi masyarakat.
Pemerintah daerah perlu menjaga komunikasi dengan petani dan pelaku usaha agar tekanan harga tidak menimbulkan dampak berlebihan di lapangan.
Meski harga CPO masih berada di atas kisaran Rp19 juta per ton, pelaku industri tetap perlu mencermati arah pasar dalam beberapa hari perdagangan ke depan.
Jika harga kembali melemah, tekanan terhadap harga buah sawit di daerah berpotensi berlanjut.














