Pantau Gambut Catat 5.000 Titik Api di Gambut
JAKARTA, TABALIEN.com – Organisasi pemantau lingkungan Pantau Gambut mencatat lebih dari 5.000 titik api muncul di kawasan gambut Sumatera dan Kalimantan pada awal 2026 meski sebagian wilayah Indonesia masih mengalami musim hujan.
Berdasarkan analisis Pantau Gambut, sedikitnya 5.490 titik panas terdeteksi di Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) pada Januari 2026. Pada Februari 2026, kembali terpantau sekitar 5.114 titik panas di kawasan gambut.
Temuan tersebut menunjukkan kebakaran hutan dan lahan gambut sudah terjadi bahkan sebelum musim kemarau dimulai.
Sebaran titik panas memperlihatkan konsentrasi kebakaran tinggi di beberapa wilayah. Provinsi Riau mencatat sekitar 2.890 titik panas, sementara Kalimantan Barat sekitar 1.316 titik panas pada Februari 2026.
Analisis pemetaan juga menunjukkan sebagian titik api muncul di wilayah konsesi perusahaan. Sedikitnya 1.080 titik panas berada di area konsesi perkebunan sawit dan sekitar 250 titik panas terdeteksi di konsesi hutan tanaman industri.
Kondisi tersebut menunjukkan kerentanan kebakaran gambut masih tinggi, terutama pada ekosistem yang telah mengalami degradasi.
Kepala Divisi Kajian dan Kampanye WALHI Kalimantan Barat, Indra Syahnanda, menyampaikan peningkatan kebakaran dalam dua bulan terakhir memicu munculnya kabut asap di sejumlah wilayah di provinsi tersebut.
“Peningkatan kebakaran dalam dua bulan terakhir memicu kabut asap di sejumlah wilayah Kalimantan Barat,” ujar Indra, Rabu (11/03/2026).
Ia menyebut asap kebakaran tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga berdampak pada kesehatan warga. Bahkan dilaporkan seorang warga meninggal dunia yang diduga berkaitan dengan dampak kebakaran hutan dan lahan.
Direktur Eksekutif WALHI Riau, Eko Yunanda, mengatakan kebakaran di Riau banyak terjadi di pulau-pulau kecil yang didominasi ekosistem gambut.
“Kebakaran di Riau banyak terjadi di pulau-pulau kecil seperti Pulau Bengkalis, Pulau Rupat, dan Pulau Mendol,” kata Eko.
Ia menjelaskan wilayah tersebut mengalami perubahan ekosistem dalam beberapa dekade terakhir akibat pembukaan lahan dan ekspansi konsesi yang meningkatkan kerentanan kebakaran.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memprediksi musim kemarau 2026 datang lebih cepat di banyak wilayah Indonesia. Sekitar 46 persen wilayah diperkirakan mengalami kemarau lebih awal dari biasanya.
Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Juli hingga Agustus 2026 dengan potensi kondisi yang lebih kering di sejumlah wilayah.
Juru Kampanye Pantau Gambut, Putra Saptian, menilai kemunculan ribuan titik api sejak awal tahun menjadi peringatan serius terkait kerentanan ekosistem gambut di Indonesia.
“Jika kebakaran sudah muncul saat musim hujan, kerentanan ekosistem gambut kita sudah sangat tinggi dan perlindungan belum berjalan efektif,” ujar Putra.
Ia menambahkan pemerintah perlu memperkuat langkah pencegahan, termasuk meningkatkan pengawasan di wilayah konsesi serta mempercepat pemulihan ekosistem gambut yang telah mengalami kerusakan.
Menurutnya, perlindungan kawasan gambut penting dilakukan untuk mencegah kebakaran berulang yang dapat memperparah kerusakan lingkungan dan mempercepat perubahan iklim global.






