PANGKALAN BUN, TABALIEN.comKebakaran lahan di Jalan DPR, Desa Sungai Tendang, Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), masih dalam penanganan petugas gabungan hingga Senin (10/8). Kebakaran ini pertama kali dilaporkan pada Jumat (7/8/2026).

Kebakaran terjadi di kawasan lahan cukup luas dengan karakteristik tanah gambut. Kondisi tersebut menjadi salah satu kendala pemadaman karena api dapat merambat dan bertahan di bawah permukaan tanah, sehingga berpotensi kembali muncul.

Kebakaran pertama kali dilaporkan masyarakat Kumai kepada Mako Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar) Kabupaten Kotawaringin Barat melalui WhatsApp sekitar pukul 17.00 WIB, Jumat (7/8). Menindaklanjuti laporan tersebut, Regu III Damkar Kobar yang tengah melaksanakan piket siang langsung menuju lokasi untuk melakukan pemadaman dan mencegah api meluas.

Pada penanganan awal, Damkar Kobar mengerahkan satu unit 04 Suplay dan satu unit 013 Water Supply. Penanganan kemudian diperkuat armada dari sejumlah instansi, yakni tiga unit BPBD, dua unit Water Supply AURI, satu unit Water Supply PU, dua unit Manggala Agni, satu unit AWC Polres Kobar, serta satu unit Huma Singgah Itah.

Bupati Kotawaringin Barat meninjau langsung lokasi kebakaran lahan tersebut, sekaligus memantau proses penanganan dan koordinasi tim gabungan di lapangan.

Kepala Bidang Pemadaman, Penyelamatan, Sarana dan Prasarana Damkar Kobar, Fahliansyah, mengatakan kondisi lahan gambut membuat proses pemadaman membutuhkan waktu dan dilakukan secara berulang. “Api di lahan gambut tidak selalu terlihat di permukaan. Petugas harus melakukan pemadaman secara bertahap, penyiraman dan pendinginan, sekaligus pemantauan agar api tidak kembali muncul,” jelasnya.

Fahliansyah menambahkan, penanganan tidak hanya difokuskan pada api yang terlihat di permukaan, tetapi juga pada titik-titik yang berpotensi masih menyimpan bara. Karena itu, pemadaman dan pendinginan dilakukan secara berulang untuk memastikan kondisi benar-benar aman.

Kepala Damkar Kobar, Dwi Agus Suhartono, menegaskan bahwa penanganan kebakaran terus dilakukan bersama seluruh unsur terkait. “Kondisi lahan yang luas dan gambut memang menjadi tantangan, sehingga membutuhkan waktu dan sinergi dari berbagai pihak. Kami memastikan upaya pemadaman tetap dilakukan untuk mengendalikan api dan mencegahnya meluas,” ujarnya.

Dwi Agus mengapresiasi dukungan berbagai instansi yang terlibat dalam penanganan, di antaranya Polri, Tagana, BPBD, AURI, Kodim, Manggala Agni, Huma Singgah Itah, serta unsur terkait lainnya. Ia juga mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan segera melaporkan apabila menemukan titik api atau kepulan asap di sekitar kawasan lahan dan hutan.

“Setiap informasi mengenai titik api yang ditemukan di lapangan agar segera dilaporkan sehingga dapat ditindaklanjuti dan dilakukan penanganan sedini mungkin,” pungkasnya.

Hingga Senin (10/8), api belum sepenuhnya berhasil dipadamkan. Luasan lahan yang terbakar dan kondisi tanah gambut masih menjadi kendala dalam proses penanganan. Petugas gabungan terus melakukan pemadaman, pendinginan, penyisiran, dan pemantauan guna mencegah kebakaran meluas maupun kembali muncul.

Kredit Redaksi