PALANGKA RAYA, TABALIEN.comKebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Palangka Raya terus meluas, membuat petugas dan relawan di lapangan bekerja keras menghadapi api. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya mencatat luas lahan terbakar per 9 Agustus 2026 mencapai 165,98 hektare dari 177 kejadian.

Kecamatan Jekan Raya masih menjadi wilayah dengan kejadian karhutla terbanyak, yakni 108 kali. BPBD Palangka Raya juga mencatat 15 kejadian karhutla baru pada Minggu (9/8/2026).

Sejumlah titik karhutla dilaporkan masih belum padam, di antaranya di Jalan Trans Kalimantan Kelurahan Kameloh Baru dan Jalan Damang Gustav Erang Kelurahan Bukit Tunggal. Beberapa titik lain masih dalam pemantauan petugas.

Manajer Pusdalops BPBD Palangka Raya, Balap Sipet, mengungkapkan bahwa situasi penanganan karhutla saat ini menuntut kerja ekstra keras dari seluruh tim gabungan di lapangan. Ia menyebut petugas menghadapi berbagai kendala, termasuk medan yang sulit dan keterbatasan sumber air.

“Pemadaman di lahan gambut memiliki tingkat kesulitan tinggi karena api sering kali merambat di bawah permukaan atau ground fire,” kata Balap, Senin (10/8/2026).

Menurutnya, petugas kerap menghadapi kendala akses menuju titik api yang jauh dari jalan utama, ditambah terbatasnya sumber air di sekitar lokasi kejadian. Penanganan paling intensif difokuskan pada kawasan dengan frekuensi kejadian dan tingkat kerawanan titik api tertinggi, terutama Kecamatan Jekan Raya dan Sabangau, diikuti wilayah Pahandut dan Bukit Batu.

Tim pemadam yang diterjunkan merupakan kolaborasi lintas sektor, melibatkan BPBD, Manggala Agni, TNI, Polri, Damkar, BKSDA, hingga Tim Serbu Api Kelurahan (TSAK) dan Masyarakat Peduli Api (MPA).

“Kecepatan respons atau quick response menjadi kunci utama agar titik api kecil tidak meluas,” tutup Balap.

Kredit Redaksi