Sisi dan Sijalu Terekam di Kawasan Sungai Joloi

Orangutan betina bernama Sisi menggendong bayinya, Sijalu, di kawasan Sungai Joloi, Januari 2026.

PALANGKA RAYA, TABALIEN.com – Tim Post-Release Monitoring atau PRM mengamati keberadaan orangutan betina bernama Sisi bersama bayinya, Sijalu, di kawasan Sungai Joloi, Hutan Lindung Bukit Batikap, pada Januari 2026.

Pertemuan itu terjadi setelah tim menyelesaikan kegiatan radio tracking di beberapa transek utama areal Hutan Lindung Bukit Batikap. Saat kembali menuju kamp menggunakan perahu motor, tim memutuskan menyusuri alur Sungai Joloi ke arah hilir.

Keputusan itu awalnya diambil untuk kembali mencari Mardianto, orangutan yang sehari sebelumnya sempat terdeteksi tetapi kemudian hilang kontak. Namun, penyusuran sungai tersebut justru mempertemukan tim dengan induk orangutan dan bayinya.

Di tepian Sungai Joloi, pada salah satu jalur menuju transek patroli, tim melihat seekor orangutan betina sedang menggendong bayi. Bayi orangutan itu tampak masih sangat muda dan terus menempel pada induknya.

Berdasarkan ukuran tubuh dan pola interaksinya, usia bayi tersebut diperkirakan sekitar satu tahun atau kurang. Setelah dilakukan identifikasi dari kemiripan fitur wajah dan tubuh, induk orangutan itu dikenali sebagai Sisi. Bayinya kemudian diberi nama Sijalu untuk memudahkan penyebutan.

Observasi pertama dilakukan pukul 13.10 WIB hingga Sisi dan Sijalu membuat sarang malam. Pada pengamatan itu, aktivitas Sisi didominasi makan buah sangkuang di kanopi pohon. Sijalu lebih banyak menyusu dan tetap berada dalam gendongan induknya.

Sarang malam mereka berada sekitar 10 meter dari tepi sungai. Pada sejumlah pengamatan terhadap orangutan ex-rehabilitan, individu orangutan cenderung berada di kawasan riparian karena area tersebut menyediakan sumber pakan yang melimpah.

Pengamatan berlanjut keesokan harinya dengan metode nest to nest sejak pukul 05.10 WIB hingga sore. Setelah bangun dari sarang, Sisi kembali banyak menghabiskan waktu untuk makan.

Jenis pakan yang terpantau cukup beragam. Sisi memakan buah sangkuang, buah ara, daun liana, mahawai, meranti, kulit kayu pilang, hingga pucuk daun bambu.

Aktivitas Sisi yang dominan di kanopi menunjukkan kondisi fisik yang baik dan kemampuan jelajah yang memadai. Sijalu masih berada dalam fase ketergantungan tinggi. Ia menyusu, digendong, dan hanya sesekali memperlihatkan gerakan mandiri.

Perubahan kecil mulai terlihat pada hari berikutnya. Selain menyusu, Sijalu mulai meniru induknya dengan mencoba beberapa jenis pakan, seperti buah saluoi, sangkuang, dan lisum.

Meski masih sering kembali ke pelukan Sisi, perilaku itu menjadi bagian awal proses pengenalan pakan alami bagi orangutan muda di alam liar.

Selama tiga hari pengamatan, Sisi dan Sijalu terlihat aktif serta sehat. Keduanya juga tidak menunjukkan tanda gangguan fisik.

Sarang malam terakhir berada di pohon bajun dengan ketinggian lebih dari 20 meter. Posisi tersebut dinilai ideal untuk perlindungan orangutan dari potensi ancaman predator.

Temuan Sisi dan Sijalu memberi gambaran tentang pola asuh induk orangutan di alam liar. Observasi ini juga memperkuat pentingnya kawasan riparian Sungai Joloi sebagai habitat orangutan, terutama bagi induk dengan anak usia dini.

Ketersediaan pakan, keamanan, dan struktur vegetasi di sekitar Sungai Joloi menjadi faktor penting bagi ruang hidup orangutan. Kawasan ini juga berperan dalam mendukung keberadaan kantong-kantong populasi orangutan di Hutan Lindung Bukit Batikap.

Sumber: BOS Foundation

Avatar photo
Avatar photo
Avatar photo
Roni Sahala Marpaung
Reporter