Bayi Orangutan Julia Lahir di Taman Nasional Bukit Baka

Pauline dan bayinya, Pancaran, yang lahir pada Juni 2020 di kawasan Suaka Margasatwa Lamandau, Kalimantan Tengah. Foto: KLHK

KALIMANTAN BARAT, TABALIEN.com – Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR), Kalimantan Barat, mengumumkan kelahiran bayi orangutan kalimantan betina bernama Julia. Bayi orangutan ini lahir dari induk berusia 13 tahun bernama Santi.

Pada akhir Juli 2025, petugas pertama kali melihat Santi menggendong Julia di sekitar camp monitoring orangutan Teluk Ribas. Kelahiran ini menandai keberhasilan program konservasi orangutan di kawasan tersebut.

“Kelahiran Julia di kawasan TNBBBR membuktikan, kawasan ini merupakan habitat yang baik, dan sangat mendukung kesejahteraan hidup orangutan sehingga dapat berkembang biak,” ungkap Kepala Balai KSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, Selasa (19/8/2025).

Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) memastikan, Julia dalam kondisi sehat, aktif, dan mendapat asupan susu yang cukup dari induknya. Sang induk juga dinyatakan sehat pasca melahirkan.

Santi merupakan salah satu orangutan yang dilepasliarkan di TNBBBR pada 28 Juni 2019. Sebelumnya, ia sempat dipelihara secara ilegal, lalu dirawat oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalbar dan tim gabungan.

Ketua Umum YIARI, Silverius Oscar Unggul, menilai kelahiran Julia sebagai bukti keberhasilan upaya konservasi orangutan jangka panjang. “Santi yang dulunya adalah orangutan korban pemeliharaan ilegal kini mampu berkembang biak secara alami di habitat alaminya dan membentuk generasi baru,” kata Silverius.

Ia menambahkan, kelahiran ini merupakan indikator positif keberlangsungan populasi orangutan di alam liar. Program rehabilitasi dan pelepasliaran terbukti memberikan dampak nyata bagi konservasi spesies terancam punah ini.

Sejak 2016, BKSDA Kalbar, Balai TNBBBR, dan YIARI telah melepasliarkan 82 orangutan hasil rehabilitasi ke kawasan TNBBBR. Program ini tidak hanya berhasil mengembalikan satwa ke habitat alaminya, tetapi juga mencatatkan delapan kelahiran alami dari induk orangutan yang sebelumnya direhabilitasi.

Orangutan yang dilepasliarkan mampu beradaptasi, bertahan hidup, dan berkembang biak secara mandiri di alam liar. Hal ini membuktikan, hutan di TNBBBR masih mampu menyediakan ruang aman sekaligus mendukung proses reproduksi alami satwa dilindungi tersebut.

“Kami menyambut gembira kabar kelahiran ini. Keberhasilan orangutan untuk berkembang biak di kawasan taman nasional menunjukkan, ekosistem di TNBBBR masih mampu mendukung kehidupan satwa liar,” ucap Kepala Balai TNBBBR, Persada Agussetia Sitepu.

Persada menyampaikan terima kasih atas kerja sama dengan YIARI dan semua pihak yang mendukung upaya konservasi ini. Kolaborasi antar institusi terbukti menjadi kunci keberhasilan program konservasi orangutan.

Kawasan TNBBBR dipilih sebagai lokasi pelepasliaran setelah melalui kajian mendalam. Taman Nasional ini memiliki populasi orangutan liar yang relatif sedikit, sehingga risiko persaingan antar individu dapat ditekan.

TNBBBR juga kaya akan keanekaragaman jumlah dan jenis tumbuhan hutan yang menjadi sumber pakan alami orangutan. Kondisi ini sangat mendukung keberhasilan proses adaptasi satwa yang dilepasliarkan ke habitat alaminya.