Jalan Trans Kalimantan Rusak, Ekonom Soroti Biaya Logistik
PALANGKA RAYA, TABALIEN.com – Kerusakan Jalan Trans Kalimantan di Km 20 ruas Muara Teweh–Banjarmasin, Desa Hajak, Kecamatan Teweh Baru, Kabupaten Barito Utara, kembali menjadi sorotan.
Warga bersama sopir angkutan disebut turun tangan menimbun lubang besar di badan jalan. Kondisi itu dinilai tidak hanya mengganggu lalu lintas, tetapi juga berpotensi menekan ekonomi daerah.
Ekonom sekaligus Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Palangka Raya, Suherman, mengatakan kerusakan jalan tidak bisa dilihat semata sebagai persoalan teknis infrastruktur.
Menurutnya, jalan memiliki peran penting dalam distribusi barang, mobilitas tenaga kerja, dan aktivitas produksi masyarakat.
“Dalam ekonomi, jalan itu urat nadi untuk proses distribusi barang, mobilitas tenaga kerja, serta penghubung aktivitas produksi masyarakat. Kalau jalannya rusak, biaya logistik pasti meningkat,” kata Suherman.
Ia menjelaskan, jalan rusak dapat membuat waktu tempuh lebih lama. Kondisi itu juga meningkatkan konsumsi bahan bakar, risiko kerusakan kendaraan, dan biaya operasional angkutan.
Dampaknya bisa dirasakan pada harga barang. Terutama di daerah yang masih bergantung pada pasokan dari luar wilayah.
“Dampaknya bisa dirasakan pada harga barang, terutama di daerah yang sangat bergantung pada pasokan dari luar wilayah. Barito Utara sebagian besar kebutuhan pasokannya masih berasal dari luar daerah,” ujarnya.
Suherman menilai perbaikan Jalan Trans Kalimantan perlu dipandang sebagai strategi menjaga pertumbuhan ekonomi daerah. Jalan yang baik dapat memperlancar arus barang dan orang.
“Infrastruktur jalan yang baik akan menurunkan biaya logistik, memperlancar arus barang dan orang, menjaga stabilitas harga, serta memperkuat konektivitas antarwilayah,” katanya.
Menurut Suherman, kerugian akibat jalan rusak tidak hanya dirasakan sopir angkutan. Dampaknya juga bisa menyentuh pelaku UMKM, pedagang, petani, produsen lokal, hingga konsumen.
Pelaku UMKM dapat menghadapi kenaikan biaya bahan baku. Pedagang juga berisiko mengalami penyusutan margin karena biaya distribusi meningkat.
Petani dan produsen lokal dapat kesulitan membawa hasil produksi ke pasar. Pada akhirnya, masyarakat ikut menanggung beban melalui kenaikan harga barang.
“Para sopir juga menanggung biaya tambahan, mulai dari perawatan kendaraan, risiko keterlambatan, sampai penurunan produktivitas karena waktu kerja habis di jalan,” katanya.
Ia meminta pemerintah tidak bersikap santai terhadap kerusakan jalan di berbagai wilayah Kalimantan Tengah. Menurutnya, kerusakan infrastruktur dapat mengganggu aktivitas ekonomi dari produsen sampai konsumen.
“Seperti yang saya katakan, infrastruktur jalan itu urat nadi perekonomian. Kalau infrastruktur jalan rusak, aktivitas ekonomi dari produsen sampai konsumen ikut terganggu,” tegasnya.
Suherman juga mengingatkan potensi efek berantai jika kerusakan jalan berlangsung lama. Biaya angkut yang naik dapat memengaruhi harga kebutuhan pokok, bahan bangunan, BBM, suku cadang, dan komoditas dari luar daerah.
“Jalan rusak bisa memberi efek negatif yang berantai kalau dibiarkan berkepanjangan tanpa solusi cepat dari pemerintah,” ujarnya.
Kerusakan jalan di Desa Hajak menjadi pengingat pentingnya penanganan infrastruktur dasar. Penimbunan sementara oleh warga dapat mengurangi risiko, tetapi perbaikan permanen tetap dibutuhkan agar dampak ekonomi tidak semakin meluas.








