PALANGKA RAYA, TABALIEN.com – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Tengah mencatat inflasi tahunan (year-on-year) pada Juni 2026 mencapai 4,47 persen, naik tajam dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya 1,06 persen. Angka ini sedikit melambat dibandingkan Mei 2026 yang tercatat 4,56 persen.
Plt. Kepala BPS Provinsi Kalimantan Tengah, Maria Wahyu Utami, S.Si., M.M., menjelaskan kenaikan inflasi dipicu oleh naiknya harga sejumlah komoditas strategis, terutama beras, bensin, minyak goreng, ikan nila, dan ikan patin. Konferensi pers digelar di Kantor BPS Kalteng, Rabu (1/7/2026).
“Inflasi terjadi karena hampir seluruh kelompok pengeluaran mengalami kenaikan harga. Kontributor terbesar berasal dari kelompok makanan, minuman dan tembakau, transportasi, serta perawatan pribadi dan jasa lainnya, hingga harga BBM yang naik jadi pemicunya,” ujar Maria.
Indeks Harga Konsumen (IHK) Kalimantan Tengah pada Juni 2026 tercatat 112,61, naik dari 112,35 pada Mei 2026 dan dari 107,79 pada Juni 2025. Kenaikan IHK ini menjadi motor penggerak inflasi tahunan tersebut.
Dari empat daerah pemantauan, Kabupaten Kapuas mencatat inflasi tertinggi sebesar 5,01 persen, sedangkan Kabupaten Sukamara menjadi yang terendah dengan 3,81 persen. Seluruh daerah penghitungan IHK di Kalimantan Tengah mengalami inflasi, baik secara bulanan maupun tahunan.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan dengan andil 2,37 persen. Posisi berikutnya ditempati kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya dengan andil 0,61 persen, serta kelompok transportasi sebesar 0,58 persen.
Secara laju inflasi per kelompok, sektor perawatan pribadi dan jasa lainnya tercatat naik 10,25 persen, disusul transportasi 6,15 persen, serta makanan, minuman, dan tembakau 6,11 persen.
“Komoditas utama yang memberikan andil inflasi tahunan antara lain beras, emas perhiasan, bensin, ikan nila, minyak goreng, ikan patin, sigaret kretek mesin, bahan bakar rumah tangga, solar, dan angkutan udara,” kata Maria.
Secara rinci, kontribusi komoditas terhadap inflasi tahunan meliputi beras sebesar 0,67 persen, emas perhiasan 0,58 persen, bensin 0,25 persen, ikan nila 0,24 persen, dan minyak goreng 0,21 persen.
Selain inflasi tahunan, Kalimantan Tengah juga mencatat inflasi bulanan (month-to-month) sebesar 0,23 persen, dengan kelompok transportasi memberikan andil terbesar yakni 0,25 persen. Komoditas utama penyumbang inflasi bulanan meliputi bensin 0,24 persen, bawang merah 0,07 persen, minyak goreng 0,06 persen, serta ikan patin dan pelumas atau oli mesin masing-masing 0,03 persen.
Salah satu faktor utama yang memengaruhi inflasi Juni 2026 adalah penyesuaian tarif BBM oleh Pertamina yang dilakukan sebanyak dua kali sepanjang bulan tersebut. Kebijakan itu berdampak langsung terhadap kelompok transportasi dan turut mendorong kenaikan harga sejumlah komoditas lain melalui peningkatan biaya distribusi.
Inflasi tahun kalender (year-to-date) Kalimantan Tengah hingga Juni 2026 tercatat mencapai 2,39 persen.
Di tengah lonjakan harga berbagai kebutuhan pokok, BPS juga mencatat sejumlah komoditas mengalami penurunan harga sehingga ikut menahan laju inflasi. “Beberapa di antaranya adalah daging ayam ras, terong, cumi-cumi, kelapa, buah naga, rampela hati ayam, sabun deterjen, popok bayi, dan daging babi,” ujar Maria.
Meski inflasi tahunan sedikit melambat dibanding bulan sebelumnya, BPS menilai perkembangan harga komoditas strategis, khususnya pangan dan energi, tetap perlu menjadi perhatian. Stabilitas pasokan serta pengendalian biaya distribusi dinilai menjadi faktor penting untuk menjaga inflasi tetap terkendali pada paruh kedua 2026 di Kalimantan Tengah.
