Demi Konten atau Masa Depan?

Ilustrasi perbandingan citra gaya hidup Gen Z di media sosial dengan realitas tekanan ekonomi dan konsumsi digital.

Di tengah arus algoritma media sosial yang terus memproduksi tren baru, muncul paradoks di kalangan generasi muda. Gen Z dikenal lebih terbuka terhadap isu kesehatan mental, kesetaraan, dan kebebasan berekspresi. Namun pada saat yang sama, sebagian dari mereka justru terjebak dalam pola konsumsi impulsif sebagai pelarian dari tekanan sosial dan ketidakpastian masa depan.

TikTok dan Instagram kini tidak lagi sekadar menjadi ruang komunikasi. Keduanya telah berubah menjadi etalase gaya hidup yang membentuk standar sosial baru. Tekanan untuk selalu tampil mengikuti tren, memakai pakaian terbaru, atau mengunjungi tempat-tempat aesthetic sering kali lahir bukan dari kebutuhan, melainkan dorongan untuk mendapat validasi sosial.

Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) memperkuat tekanan tersebut. Banyak anak muda terdorong membeli sesuatu bukan karena mampu, tetapi karena takut tertinggal. Konten media sosial yang hanya bertahan beberapa detik atau 24 jam di story akhirnya mendorong konsumsi yang sering kali tidak sebanding dengan kondisi finansial mereka.

Di tengah budaya digital semacam itu, layanan Buy Now Pay Later (BNPL), paylater, dan pinjaman online hadir dengan akses yang semakin mudah. Transformasi keuangan digital memang memperluas akses masyarakat terhadap layanan finansial. Namun bagi generasi muda dengan literasi keuangan yang belum matang, kemudahan tersebut juga dapat menciptakan ilusi bahwa utang adalah “uang tambahan”.

Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi, pernah menyoroti fenomena FOMO, YOLO, dan doom spending di kalangan anak muda. Doom spending merujuk pada kebiasaan berbelanja berlebihan sebagai respons terhadap kecemasan dan ketidakpastian masa depan.

Data OJK menunjukkan kelompok usia 19–34 tahun menjadi pengguna terbesar layanan pinjaman online di Indonesia. Penggunaan paylater pun masih didominasi kebutuhan gaya hidup seperti fesyen, elektronik, dan perawatan diri. Hingga pertengahan 2025, total utang masyarakat melalui layanan paylater mencapai puluhan triliun rupiah.

Namun, persoalan ini tidak bisa dilihat semata sebagai kegagalan individu mengatur keuangan. Perilaku konsumtif generasi muda juga lahir dari situasi ekonomi yang semakin tidak pasti. Harga rumah terus naik, biaya hidup meningkat, dan stabilitas pekerjaan terasa semakin sulit dijangkau. Dalam kondisi seperti itu, banyak anak muda merasa masa depan terlalu mahal untuk direncanakan.

Akibatnya, sebagian memilih menikmati kesenangan jangka pendek dibanding mengejar stabilitas yang terasa semakin jauh. Konsumsi akhirnya menjadi bentuk pelarian psikologis sekaligus cara untuk mempertahankan rasa relevan di tengah tekanan sosial digital.

Jika pola ini terus berlangsung tanpa kontrol, generasi muda berisiko menghadapi jebakan mobilitas sosial. Minimnya tabungan, rendahnya investasi, dan tingginya cicilan konsumtif dapat mempersempit kemampuan mereka menghadapi krisis ekonomi di masa depan.

Meski demikian, media sosial dan ekonomi digital tidak sepenuhnya membawa dampak negatif. Platform digital juga membuka peluang baru bagi generasi muda, mulai dari ekonomi kreatif, content creator, hingga bisnis daring. Masalah muncul ketika konsumsi tidak lagi menjadi kebutuhan atau sarana ekspresi diri, melainkan alat untuk mencari pengakuan sosial.

Karena itu, solusi terhadap fenomena ini tidak cukup hanya dengan meminta anak muda “lebih hemat”. Literasi finansial perlu diperkuat sejak dini, termasuk pemahaman mengenai utang digital dan risiko konsumsi impulsif. Di sisi lain, platform digital dan layanan keuangan juga perlu lebih bertanggung jawab dalam menciptakan ekosistem yang sehat bagi pengguna muda.

Pada akhirnya, fenomena konsumtif di kalangan Gen Z bukan sekadar persoalan gaya hidup. Fenomena ini mencerminkan pertemuan antara tekanan algoritma media sosial, budaya validasi digital, dan ketidakpastian ekonomi yang dihadapi generasi muda hari ini. Jika tidak disikapi secara lebih kritis, generasi muda dapat tumbuh dalam budaya konsumsi yang cepat, tetapi rapuh dalam membangun masa depan finansialnya sendiri.

Foto Viladelfia
Tentang Penulis

Viladelfia

Mahasiswa jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Palangkaraya. Memiliki ketertarikan pada isu-isu ekonomi dan sosial.