Bimtek PAI Dorong Guru Terapkan Deep Learning

Para peserta menyanyikan lagu Indonesia Raya saat pembukaan Bimbingan Teknis Penyusunan Modul Deep Learning Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti jenjang SD di Aula Disdik Kapuas.

KUALA KAPUAS, TABALIEN.com – Dinas Pendidikan Kabupaten Kapuas bersama Kantor Kementerian Agama Kapuas menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) penyusunan modul Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Budi Pekerti berbasis pendekatan deep learning, sekaligus mengukuhkan Kelompok Kerja Guru (KKG) PAI jenjang SD. Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan Kapuas, H. Suwarno Muriyat, di Aula Disdik Kapuas.

Dalam sambutannya, Suwarno menegaskan pentingnya transformasi pembelajaran PAI agar selaras dengan kebutuhan abad ke-21, termasuk perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan. Ia menyebut, pendekatan deep learning dinilai efektif dalam membentuk karakter kuat, pemahaman mendalam, serta kepekaan sosial dan spiritual peserta didik.

“Pendidikan agama dan budi pekerti tidak boleh hanya sebatas transfer pengetahuan, tetapi harus menyentuh hati dan mendorong perubahan perilaku. Melalui deep learning, siswa diarahkan untuk memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Suwarno.

Ia juga menyampaikan bahwa pelaksanaan Bimtek ini mendukung rencana program “Kapuas Mengaji” yang akan segera dicanangkan oleh Bupati Kapuas H. M. Wiyatno, SP. Program tersebut merupakan implementasi dari gerakan Tuntas Baca Tulis Al-Qur’an (TBTQ).

Kepala Kantor Kementerian Agama Kapuas, H. Hamidhan, dalam kesempatan yang sama menjelaskan empat kompetensi dasar yang wajib dimiliki oleh pendidik, yakni kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian. Menurutnya, kompetensi tersebut harus dikuatkan melalui pelatihan berkelanjutan.

Sementara itu, Ketua Panitia Bimtek sekaligus Ketua KKG PAI SD, Bejo Slamet, menyebutkan bahwa pelatihan ini menghadirkan langsung narasumber dari Pusat Kurikulum dan Bahan Ajar Kementerian Pendidikan RI, yakni Achmad Hasim, M.Ag., yang juga penulis buku bidang pendidikan agama.

“Modul yang disusun secara kolaboratif ini melalui tahapan eksplorasi makna, refleksi nilai, integrasi lintas mata pelajaran, hingga praktik baik dalam pembelajaran kontekstual. Tujuannya agar guru tidak sekadar mengajar, tetapi menjadi fasilitator pembelajaran bermakna yang berpusat pada peserta didik,” pungkas Bejo.