PALANGKA RAYA, TABALIEN.com – Kabut asap yang menyelimuti Palangka Raya berdampak pada kesehatan dan aktivitas ekonomi pedagang di Pasar Besar atau Pasar Blauran. Di tengah gangguan pernapasan dan berkurangnya jumlah pembeli, para pedagang tetap berjualan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat konsentrasi partikulat PM2,5 di Palangka Raya mencapai 1.301,4 pada Minggu (25/10/2026) pukul 10.00 WIB. Angka tersebut masuk kategori berbahaya dan berisiko bagi masyarakat, terutama mereka yang beraktivitas di luar ruangan.
Pedagang Mengeluhkan Gangguan Kesehatan
Siti (55), pedagang sayur di Pasar Besar, mulai membuka lapaknya sejak pukul 07.00 WIB. Ia mengaku mengalami batuk-batuk hingga sesak napas selama lebih dari dua bulan.
“Kalau dampak kesehatan pasti ada, anak saya juga tidak boleh keluar, karena sekolah dari rumah. Suami saya batuknya tidak sembuh-sembuh,” ujarnya.
Selain gangguan kesehatan, Siti menyebut kabut asap dan kemarau turut memengaruhi ketersediaan serta harga sejumlah bahan pangan. Harga kentang, wortel, dan timun mengalami kenaikan.
“Semua barang naik. Katanya karena asap, tanaman tidak ada yang menanam, jadi barang didatangkan dari Jawa dan semuanya mahal,” ungkapnya.
Pembeli Berkurang, Pendapatan Pedagang Tertekan
Dampak kabut asap juga dirasakan Yulia (26), pedagang di Pasar Besar Palangka Raya. Menurut dia, aktivitas pasar lebih sepi karena warga mengurangi kegiatan di luar rumah.
“Kalau tidak terlalu butuh, orang tidak akan keluar. Apalagi kemarin saat langit sampai kuning. Kalau tidak perlu, orang-orang tidak keluar,” kata Yulia.
Berkurangnya aktivitas masyarakat turut memengaruhi pendapatan pedagang. Yulia juga menyebut aktivitas pekerja perkebunan kelapa sawit dan sektor angkutan, yang biasanya menjadi bagian dari pelanggan, ikut berkurang selama musim kemarau.
Kondisi tersebut membuat pedagang harus bertahan di tengah menurunnya jumlah pembeli dan gangguan kesehatan akibat paparan asap.
Harga Gula Naik, Cabai Justru Turun
Caca (31), pedagang bahan kebutuhan pokok di Pasar Besar, mengatakan harga sejumlah komoditas mengalami perubahan di tengah kabut asap dan kemarau.
Harga gula dalam kemasan karung berisi 25 kilogram, misalnya, naik dari sekitar Rp400.000 menjadi Rp465.000.
Sebaliknya, harga cabai mengalami penurunan. Menurut Caca, harga yang sebelumnya berkisar Rp135.000 hingga Rp150.000 per kilogram kini menjadi sekitar Rp100.000 per kilogram.
Meski terjadi perubahan harga, jumlah pembeli justru berkurang. Caca menilai sebagian warga enggan keluar rumah ketika kabut asap semakin pekat.
“Pembelinya lebih sepi sekarang, biasanya hari Sabtu dan Minggu ramai. Mungkin orang malas keluar,” bebernya.
Sepinya pasar berdampak langsung terhadap pendapatan pedagang. Mereka tetap harus membuka lapak untuk memenuhi kebutuhan hidup, meskipun menghadapi gangguan kesehatan dan penurunan aktivitas perdagangan.
