PALANGKA RAYA, TABALIEN.com – Pernyataan Gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng) Agustiar Sabran yang bercanda saat membahas penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) viral di media sosial. Sejumlah anggota DPR RI mengkritik pernyataan tersebut dan mengingatkan pentingnya empati terhadap masyarakat terdampak.
Agustiar menyebut hampir 97 persen karhutla disebabkan oleh ulah manusia. Namun, ia juga melontarkan seloroh, “Karena bersatu kita teguh, bercerai kita kawin lagi,” yang kemudian menuai kritik.
Dalam video yang beredar, Agustiar menjawab pertanyaan wartawan mengenai penanganan karhutla. Ia menyebut hampir 97 persen kejadian karhutla disebabkan oleh manusia.
“Sebenarnya sama aja, takdir juga, tapi banyak ulah manusianya. Hampir 97 persen tuh akibat manusianya,” kata Agustiar, sebagaimana diberitakan banyak media.
Agustiar kemudian menekankan pentingnya kebersamaan untuk menghadapi karhutla. Namun, ia menyisipkan candaan berupa plesetan peribahasa yang menjadi sorotan.
“Karena bersatu kita teguh, bercerai kita kawin lagi,” ujarnya.
Pernyataan tersebut mendapat perhatian publik setelah cuplikan videonya beredar luas di media sosial.
Daniel Johan Kritik Candaan Gubernur Kalteng

Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi PKB, Daniel Johan, menilai pemimpin daerah seharusnya menunjukkan empati kepada masyarakat yang terdampak karhutla.
Politikus asal Kalimantan Barat itu mengingatkan bahwa bencana dan kabut asap telah membuat masyarakat mengalami penderitaan. Karena itu, pejabat publik perlu mempertimbangkan kondisi warga saat menyampaikan pernyataan.
“Pemimpin itu mengayomi dan empati, apalagi di tengah bencana yang membuat hidup masyarakat menderita. Bencana karhutla saat ini kita harus menunjukkan sikap empati, tidak asal statement yang mengundang ketidaksukaan masyarakat di tengah penderitaan akibat kabut asap,” kata Daniel kepada wartawan, Dilansir dari detikcom, Selasa (13/10/2026) lalu.
Ketua DPP PKB tersebut menilai niat bercanda tidak serta-merta membuat pernyataan itu tepat disampaikan dalam situasi bencana.
“Meskipun niatnya bercanda, tapi tidak pada tempatnya karena kondisi masyarakat yang sedang mengalami musibah,” kata dia.
Daniel berharap para pemimpin mengutamakan empati dan menjalankan fungsi mereka untuk membantu mengatasi persoalan bencana.
“Kita berharap para pemimpin mengedepankan sikap empati dan melakukan hal terbaik sesuai fungsinya untuk membantu mengatasi persoalan-persoalan bencana saat ini,” tambahnya.
Ahmad Irawan Ingatkan Empati dalam Komunikasi Publik

Kritik terhadap pernyataan Agustiar juga disampaikan anggota Komisi II DPR RI, Ahmad Irawan. Politikus Partai Golkar itu mengingatkan pejabat publik agar memperhatikan dampak komunikasi mereka terhadap masyarakat yang terdampak karhutla.
Dalam keterangan tertulis yang dimuat pada Jumat (16/10/2026), Irawan menyebut karhutla berdampak negatif terhadap kehidupan masyarakat, termasuk kondisi sosial dan perekonomian.
Ia menilai pejabat publik perlu memahami kondisi emosional warga yang menghadapi bencana. Menurutnya, kepala daerah seharusnya memberikan ketenangan dan membangun optimisme masyarakat bahwa kebakaran dapat dipadamkan.
“Sebaiknya kepala daerah kita membangun optimisme kepada masyarakat kebakarannya akan padam,” katanya.
Irawan berharap para kepala daerah menjadikan persoalan ini sebagai pelajaran dalam menjaga etika komunikasi publik, khususnya ketika masyarakat menghadapi situasi darurat.
Di tengah ancaman gangguan kesehatan akibat kabut asap dan kerugian ekonomi yang membayangi warga Kalimantan Tengah, penanganan bencana serta kebutuhan masyarakat terdampak menjadi persoalan penting yang perlu diperhatikan.
