
KUALA PEMBUANG, TABALIEN.com – Dinas Kesehatan Kabupaten Seruyan mencatat 1.937 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) hingga 24 September 2026. Kondisi kualitas udara yang memburuk akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi salah satu faktor yang disebut berkaitan dengan kondisi tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Seruyan dr. Riza Syahputra mengatakan masyarakat perlu mengurangi paparan asap dan menjaga kondisi tubuh untuk mengantisipasi gangguan pernapasan.
“ISPA sangat mudah menular dan dapat menimbulkan gejala seperti batuk, pilek, demam hingga sesak napas. Karena itu masyarakat perlu menjaga kondisi tubuh dan mengurangi paparan terhadap asap,” kata Riza.
Dinkes Siapkan Antisipasi melalui Puskesmas
Riza mengatakan Dinkes Seruyan telah menyiapkan langkah antisipasi melalui puskesmas. Masker didistribusikan ke wilayah terdampak, sedangkan obat-obatan dan tenaga kesehatan dipastikan tersedia.
“Kami membagi masker di setiap puskesmas yang terdampak, terutama daerah hulu yang sangat terdampak seperti Hanau, Rantau Pulut, dan Manjul,” ujarnya.
Perhatian khusus diberikan kepada balita, anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan seperti asma.
Masyarakat juga diminta menerapkan pola hidup sehat, mengonsumsi makanan bergizi, berolahraga, dan menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah. Imbauan tersebut terutama berlaku ketika kondisi udara dipengaruhi kabut asap.
Ribuan Masker Disalurkan
Pemkab Seruyan telah menyalurkan ribuan masker melalui puskesmas sebagai perlindungan awal bagi masyarakat. Penyaluran diprioritaskan ke wilayah tengah dan hulu Kabupaten Seruyan.
Data kasus ISPA tersebut perlu dibaca berdasarkan periode pencatatannya. Sebelumnya, kasus ISPA di Seruyan pada Agustus 2026 disebut berada di kisaran lebih dari 500 kasus, sedangkan pada pertengahan September Dinkes menyebut angka kasus pada periode tersebut sekitar 250 dan menunjukkan tren penurunan.
Perbedaan angka berdasarkan periode pencatatan tersebut menjadi perhatian, sementara Dinkes tetap meminta masyarakat tidak lengah karena ancaman karhutla dan asap masih dapat memicu gangguan kesehatan.
Melalui langkah antisipasi tersebut, pemerintah daerah berupaya mencegah dampak karhutla berkembang menjadi persoalan kesehatan masyarakat yang lebih luas.
