Jelang Iduladha, DPRD Palangka Raya Soroti Harga Daging
PALANGKA RAYA, TABALIEN.com – DPRD Kota Palangka Raya menyoroti potensi kenaikan harga daging Palangka Raya menjelang perayaan Iduladha. Pemerintah daerah diminta meningkatkan pengawasan pasar guna menjaga stabilitas harga bagi masyarakat.
Anggota DPRD Kota Palangka Raya, Khemal Nasery, mengatakan kenaikan harga daging kerap terjadi setiap tahun menjelang hari raya. Karena itu, pemerintah perlu melakukan langkah antisipasi sejak dini.
Menurutnya, pemantauan terhadap pergerakan harga daging Palangka Raya harus dilakukan secara rutin di pasar tradisional maupun pusat perdagangan lainnya. Langkah ini penting untuk mencegah praktik permainan harga.
Selain pemantauan pasar, pengawasan juga perlu melibatkan dinas terkait di lingkungan Pemerintah Kota Palangka Raya. Koordinasi tersebut dinilai penting untuk memastikan pengendalian harga berjalan efektif.
“Pemerintah harus sigap memantau pasar agar tidak terjadi permainan harga, terutama menjelang Iduladha,” ujar Khemal Nasery, Minggu, 27 April 2026.
Ia menjelaskan pengendalian harga daging Palangka Raya tidak bisa dilakukan secara parsial. Pemerintah perlu mengawasi seluruh rantai pasok, mulai dari ketersediaan pasokan hingga proses distribusi ke pedagang.
Khemal menilai aspek distribusi menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas harga. Hambatan distribusi dapat memicu kenaikan harga di tingkat pedagang maupun konsumen.
“Pengendalian harga harus dilakukan secara terpadu. Tidak hanya di hulu, tetapi juga sampai ke distribusi dan pasar,” ujar Khemal Nasery, Minggu, 27 April 2026.
Ia juga mendorong pemerintah daerah meningkatkan koordinasi lintas sektor untuk mengawasi perdagangan daging menjelang Iduladha. Keterlibatan instansi terkait dinilai penting untuk menjaga stabilitas pasokan.
Dengan pengawasan yang lebih intensif, DPRD berharap harga daging Palangka Raya tetap stabil selama periode menjelang hari raya. Kondisi tersebut diharapkan membantu masyarakat menjalankan ibadah kurban tanpa terbebani kenaikan harga yang tidak wajar.








