Save Our Borneo Soroti Deforestasi DAS Kapuas
PALANGKA RAYA, TABALIEN.com – Organisasi lingkungan Save Our Borneo (SOB) menyoroti deforestasi DAS Kapuas di Kalimantan Tengah yang dikaitkan dengan aktivitas Hutan Tanaman Industri (HTI). Temuan tersebut disampaikan dalam laporan pemantauan yang mengkaji perubahan tutupan hutan dan dampaknya terhadap ekosistem daerah aliran sungai.
Laporan Save Our Borneo mencatat pembukaan hutan dalam skala besar di sejumlah area konsesi perusahaan. Perubahan tutupan lahan tersebut dinilai memengaruhi bentang alam kawasan hulu Sungai Kapuas.
Berdasarkan pemantauan organisasi tersebut, deforestasi terjadi antara lain di wilayah konsesi PT Industrial Forest Plantation (IFP). Data yang dihimpun menunjukkan pembukaan hutan mencapai sekitar 24.642 hektare atau sekitar 33,88 persen dari area yang dibuka untuk penanaman akasia.
Selain itu, aktivitas penanaman tanaman industri juga tercatat di konsesi PT Bumi Hijau Prima. Perusahaan tersebut diketahui mengembangkan tanaman sengon dan balsa di sejumlah wilayah yang sebelumnya merupakan kawasan hutan.
Save Our Borneo menyebut perubahan tutupan hutan tersebut terjadi di wilayah DAS Kapuas, yang sebelumnya masuk kawasan prioritas pemulihan setelah proyek Pengembangan Lahan Gambut (PLG) pada dekade 1990-an. Transformasi kawasan hutan menjadi area tanaman monokultur dinilai memengaruhi fungsi ekologis wilayah tersebut.
Direktur Save Our Borneo, M Habibi, menyatakan perubahan bentang alam di kawasan hulu sungai berpotensi memengaruhi keseimbangan ekosistem.
“Pembukaan hutan alam tidak hanya mengurangi tutupan pohon, tetapi juga berdampak pada habitat satwa serta keseimbangan ekosistem di kawasan tersebut,” ujar Habibi, Rabu, 22 April 2026.
Menurut Habibi, sejumlah area yang terdampak termasuk kawasan dengan nilai konservasi tinggi. Kondisi ini dinilai berpotensi memengaruhi keberadaan satwa yang hidup di kawasan hutan tersebut.
Selain dampak terhadap keanekaragaman hayati, Save Our Borneo juga menyoroti perubahan fungsi hidrologis di wilayah deforestasi DAS Kapuas. Perubahan tutupan lahan dari hutan alam menjadi tanaman monokultur disebut dapat memengaruhi sistem aliran air di kawasan sungai.
Laporan tersebut juga menyinggung kebijakan nasional Forestry and Other Land Use (FOLU) Net Sink 2030, yang menjadi bagian dari upaya Indonesia menurunkan emisi gas rumah kaca dari sektor kehutanan. Save Our Borneo menilai implementasi kebijakan tersebut perlu diperkuat di tingkat lapangan.
Selain itu, laporan tersebut turut mengulas rantai pasokan industri berbasis kehutanan yang terhubung dengan pasar global. Sejumlah investigasi internasional disebut menemukan hubungan antara produk industri kertas dan pasokan bahan baku dari kawasan yang mengalami perubahan tutupan hutan.
Save Our Borneo menyatakan temuan tersebut menjadi dasar rekomendasi bagi pemerintah pusat dan daerah. Organisasi itu mendorong evaluasi kebijakan pengelolaan hutan serta penguatan pengawasan terhadap aktivitas di kawasan DAS Kapuas.
Laporan pemantauan tersebut diserahkan kepada sejumlah instansi pemerintah di Kalimantan Tengah sebagai bahan pertimbangan dalam pengelolaan kawasan hutan dan daerah aliran sungai.









