Oleh: dr. Adi Suciatma

 

PALANGKA RAYA, TABALIEN.com – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan bukan sekadar mengganggu pandangan dan menimbulkan bau, akan tetapi asap bisa mengandung PM2.5, yaitu partikel sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam paru-paru dan sebagian dapat masuk ke aliran darah. Paparan kabut asap dapat memengaruhi mata, saluran pernapasan, jantung, dan organ lainnya.

Penyakit dan gangguan kesehatan — dari yang paling sering akibat kabut asap ini antara lain:

1. Iritasi mata, hidung, dan tenggorokan

Gejala yang paling sering muncul adalah mata perih/berair, hidung berair atau tersumbat, tenggorokan kering dan terasa gatal.

2. Batuk dan peningkatan lendir/dahak

Partikel asap mengiritasi saluran napas sehingga muncul batuk, tenggorokan terasa mengganjal, dan produksi dahak meningkat.

3. Sesak napas dan mengi

Asap dapat menyebabkan saluran napas menyempit dan meradang. Keluhan ini lebih mudah terjadi pada penderita asma atau penyakit paru kronis.

4. Serangan atau perburukan asma

Pada penderita asma, kabut asap dapat memicu batuk, mengi, sesak, dan serangan asma yang lebih berat.

5. Bronkitis dan penurunan fungsi paru sementara

Paparan PM2.5 yang tinggi dapat menyebabkan peradangan paru dan penurunan fungsi paru, terutama bila paparan berlangsung terus-menerus.

6. Sakit kepala, pusing, dan mudah lelah

Keluhan seperti sakit kepala, pusing, dan kelelahan dapat muncul selama paparan asap.

7. Perburukan penyakit jantung dan pembuluh darah

Pada orang yang rentan, terutama lansia dan penderita penyakit jantung, paparan asap dapat meningkatkan risiko kejadian kardiovaskular seperti serangan jantung dan stroke.

Siapa yang paling mudah terkena?

Anak-anak

Anak termasuk kelompok yang sangat rentan. Paru-paru mereka masih berkembang, mereka bernapas lebih banyak dibandingkan ukuran tubuhnya, dan biasanya lebih aktif secara fisik. Akibatnya, paparan asap dapat lebih mudah menyebabkan batuk, mengi, sesak, penurunan fungsi paru, dan serangan asma.

Lansia

Lansia, terutama usia ≥65 tahun, juga sangat rentan. Penurunan cadangan fungsi tubuh serta lebih tingginya kemungkinan memiliki penyakit jantung dan paru membuat mereka lebih mudah mengalami sesak, eksaserbasi penyakit paru, serangan jantung, atau stroke ketika kualitas udara buruk.

Secara praktis: anak-anak lebih rentan terhadap gangguan saluran napas dan perkembangan paru, sedangkan lansia lebih rentan terhadap komplikasi paru dan kardiovaskular.

 

Cara Pencegahan

1. Kurangi aktivitas di luar rumah

Ketika kabut asap pekat, anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma, penyakit paru, dan penyakit jantung sebaiknya berada di dalam ruangan sebanyak mungkin.

2. Tutup pintu dan jendela

Tujuannya mengurangi masuknya asap ke dalam rumah.

3. Gunakan masker yang tepat

Jika harus keluar, gunakan N95/KN95 atau respirator yang memiliki daya filtrasi partikel baik dan terpasang rapat. Masker kain biasa tidak memberikan perlindungan yang sama terhadap PM2.5.

4. Buat ruangan “udara bersih”

Jika memungkinkan gunakan air purifier dengan filter HEPA. Bila tidak memiliki purifier, pilih satu ruangan yang paling tertutup dari asap dan kurangi sumber polusi di dalam rumah.

5. Jangan menambah polusi di dalam rumah

Hindari merokok, membakar sampah, membakar dupa, memanggang atau menggoreng berlebihan ketika kondisi asap sedang buruk.

6. Pantau kualitas udara

Jika kualitas udara sangat buruk, tunda olahraga dan aktivitas luar ruangan.

 

Pengobatan Mandiri yang Sederhana

Untuk keluhan ringan seperti mata perih, tenggorokan kering, atau batuk ringan:

1. Banyak minum air

Air membantu menjaga kelembapan tenggorokan dan mencegah dehidrasi. Tidak perlu memaksakan minum berlebihan.

2. Berkumur air garam hangat

Dapat membantu meredakan rasa tidak nyaman pada tenggorokan.

3. Bersihkan wajah dan tubuh setelah terpapar asap

Mandi dan mengganti pakaian setelah berada di luar dapat membantu menghilangkan partikel asap yang menempel.

4. Untuk mata perih

Bilas dengan air bersih atau gunakan air mata buatan bila diperlukan. Hindari mengucek mata.

5. Minuman hangat

Air hangat atau teh hangat dapat memberikan rasa nyaman pada tenggorokan. Madu dapat digunakan untuk anak usia >1 tahun dan orang dewasa sebagai pereda batuk, tetapi bukan sebagai penawar racun asap.

Penting: tidak ada bahan alami seperti madu, jahe, kunyit, jeruk nipis, atau susu yang terbukti dapat “membersihkan PM2.5 dari paru-paru”. Bahan-bahan tersebut boleh dikonsumsi sebagai makanan/minuman, tetapi tidak menggantikan upaya utama menghindari asap.

 

Kapan Harus ke Dokter?

Segera mencari pertolongan medis apabila muncul:

– Sesak napas sedang atau berat

– Napas cepat atau sulit bernapas

– Nyeri/tekanan di dada

– Bibir atau wajah kebiruan

– Mengi berat

– Penurunan kesadaran atau sangat mengantuk

– Anak sulit bernapas atau tidak mau minum

– Gejala asma tidak membaik dengan obat yang biasa digunakan

– Keluhan jantung seperti nyeri dada atau berdebar berat

Pada kondisi tersebut, jangan mengandalkan pengobatan alami di rumah. Paparan asap berat dapat menyebabkan gangguan pernapasan dan kardiovaskular yang membutuhkan penanganan medis.

 

Kesimpulan

Urutan keluhan yang paling sering akibat kabut asap:

Iritasi mata/hidung/tenggorokan → batuk → dahak → sesak/mengi → perburukan asma/penyakit paru → komplikasi jantung dan pembuluh darah pada kelompok rentan.

Pada anak-anak, perhatian utama adalah perlindungan paru dan pencegahan serangan asma. Pada lansia, selain paru, perhatian khusus perlu diberikan pada risiko jantung dan pembuluh darah.

Pencegahan terbaik bukanlah minuman atau herbal tertentu, tetapi mengurangi dosis asap yang terhirup: tetap di dalam ruangan, tutup sumber masuk asap, gunakan respirator yang sesuai ketika keluar, dan cari udara yang lebih bersih. (*).

 

 

Kredit Redaksi