Beasiswa Pendidikan Murung Raya dan Harapan Generasi Muda
Yanto duduk di teras rumah sambil menghisap rokok tanpa merek. Di usianya yang tidak lagi muda, ia masih memikirkan bagaimana memenuhi kebutuhan hidup esok hari. Di Puruk Cahu, Kabupaten Murung Raya, lapangan pekerjaan formal tidak banyak tersedia, terlebih bagi mereka yang tidak memiliki pendidikan memadai. Kisah seperti Yanto bukan cerita tunggal. Ia adalah gambaran nyata tentang bagaimana keterbatasan pendidikan masih berkaitan erat dengan sempitnya peluang ekonomi masyarakat daerah.
Namun, rendahnya pendidikan tentu bukan satu-satunya penyebab kemiskinan. Keterbatasan lapangan kerja, akses informasi, hingga kondisi geografis daerah juga turut memengaruhi. Meski demikian, pendidikan tetap menjadi salah satu jalan penting untuk memperluas kesempatan hidup dan meningkatkan mobilitas sosial masyarakat.
Persoalan akses pendidikan di Murung Raya masih menjadi tantangan serius. Data Angka Partisipasi Kasar (APK) Perguruan Tinggi dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Tengah menunjukkan APK perguruan tinggi Kabupaten Murung Raya masih berada di angka 14 persen. Artinya, hanya sebagian kecil remaja usia kuliah di daerah tersebut yang berhasil melanjutkan pendidikan tinggi. Angka ini jauh tertinggal dibanding rata-rata APK perguruan tinggi Kalimantan Tengah yang mencapai 25,49 persen. Bahkan Kota Palangka Raya mencatat akses pendidikan tinggi di atas 62 persen.
Rendahnya akses pendidikan tersebut tidak lepas dari berbagai persoalan dasar. Dalam Peraturan Bupati Murung Raya Nomor 33 Tahun 2025 tercatat angka putus sekolah di Murung Raya mencapai 22,33 pada tahun 2024. Sementara itu, data Referensi Pendidikan Kemendikdasmen juga menunjukkan residu data peserta didik paling dominan berada di Kecamatan Murung dan Laung Tuhup. Kondisi ini menunjukkan masih adanya persoalan administrasi dan keberlanjutan pendidikan yang perlu mendapat perhatian serius.
Di tengah kondisi tersebut, kehadiran program beasiswa menjadi harapan penting bagi banyak pelajar daerah. Beasiswa bukan sekadar bantuan dana pendidikan, tetapi juga membuka peluang bagi generasi muda Murung Raya untuk keluar dari keterbatasan ekonomi yang selama ini membatasi mereka.
Pemerintah Kabupaten Murung Raya sendiri telah menjalankan berbagai program pendidikan seperti skema “1 Desa 10 Sarjana” dan Program Kartu Hebat Mahasiswa. Tercatat sekitar 1.250 mahasiswa asal Murung Raya menerima bantuan pendidikan dari pemerintah daerah untuk menempuh studi di berbagai perguruan tinggi.
Selain itu, peluang pendidikan tinggi juga terbuka melalui program Kartu Indonesia Pintar-Kuliah (KIP-K). Berdasarkan statistik Universitas Palangka Raya (UPR), sekitar 4,20 persen mahasiswa baru berasal dari Murung Raya, dan sebanyak 47,16 persen di antaranya berhasil menempuh kuliah gratis melalui bantuan KIP-K. Mahasiswa asal Murung Raya juga termasuk dalam sasaran Program 10.000 Kuliah Gratis Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah.
Saya sendiri merupakan salah satu penerima manfaat program beasiswa tersebut. Bantuan yang diberikan tidak hanya berupa biaya pendidikan, tetapi juga pembinaan pengembangan diri seperti pelatihan soft skill, pengenalan dunia kerja, dan peningkatan kemampuan pribadi. Pengalaman itu membuat saya memahami bahwa pendidikan bukan hanya soal memperoleh gelar, melainkan juga proses membangun kesiapan menghadapi dunia kerja.
Meski demikian, program beasiswa tidak dapat menjadi solusi tunggal. Masih banyak anak muda di Murung Raya yang memilih tidak melanjutkan pendidikan karena tekanan ekonomi keluarga, kurangnya motivasi, atau minimnya informasi mengenai peluang pendidikan. Di daerah yang aktivitas ekonominya banyak ditopang sektor informal dan pertambangan, tidak sedikit generasi muda yang memilih langsung bekerja dibanding melanjutkan kuliah.
Data ketenagakerjaan Murung Raya menunjukkan fenomena yang menarik. Tingkat pengangguran terbuka daerah memang berada di angka 2,90 persen, tetapi jika dilihat berdasarkan latar belakang pendidikan, lulusan SMA/sederajat justru menjadi penyumbang pengangguran terbesar dengan proporsi mencapai 30,46 persen. Disusul lulusan SD ke bawah sebesar 29 persen dan lulusan SMP sebesar 26,22 persen. Sementara itu, lulusan perguruan tinggi memiliki proporsi pengangguran paling rendah, yakni 14,32 persen.
Data tersebut menunjukkan bahwa pendidikan yang lebih tinggi tetap memberikan peluang lebih besar untuk memperoleh pekerjaan yang lebih baik dan lebih stabil. Di sisi lain, rendahnya angka pengangguran pada kelompok berpendidikan rendah juga tidak selalu berarti kondisi mereka lebih sejahtera. Banyak di antaranya bekerja di sektor informal seperti perkebunan, pertanian, atau pertambangan rakyat dengan pendapatan yang tidak tetap dan minim perlindungan kerja.
Karena itu, pendidikan perlu dipandang sebagai investasi jangka panjang, bukan sekadar pilihan individu. Ketika semakin banyak generasi muda Murung Raya memperoleh akses pendidikan yang layak, kualitas sumber daya manusia daerah akan meningkat. Dalam jangka panjang, hal tersebut dapat membantu memperkuat ekonomi daerah sekaligus mengurangi ketimpangan sosial.
Tentu, keterlibatan pemerintah maupun sektor swasta dalam program pendidikan juga perlu terus diawasi agar tidak berhenti pada pencitraan semata. Program beasiswa harus dijalankan secara transparan, tepat sasaran, dan benar-benar berorientasi pada peningkatan kualitas generasi muda daerah.
Pada akhirnya, tidak semua anak Murung Raya harus menjadi sarjana. Pendidikan juga dapat diwujudkan melalui pelatihan keterampilan maupun pendidikan vokasi yang sesuai dengan kebutuhan daerah. Namun setidaknya, akses pendidikan yang lebih terbuka dapat memperkecil kemungkinan lahirnya lebih banyak “Yanto” lain—mereka yang harus menghadapi masa depan dengan pilihan hidup yang sangat terbatas.
Beasiswa bukan sekadar bantuan pendidikan. Ia adalah jembatan harapan bagi anak-anak daerah untuk memperoleh kesempatan hidup yang lebih baik, sekaligus jalan bagi Murung Raya untuk membangun masa depan yang lebih maju.
Nia Ramadhani
Mahasiswa Jurusan Akuntansi dengan yang memiliki minat pada isu pendidikan, ekonomi daerah, dan pembangunan sumber daya manusia. Tulisan ini disusun sebagai bagian dari mata kuliah Ekonomi Makro.
www.tabalien.com









