Mahasiswa Perantau dan Mesin Ekonomi Kota Palangka Raya
Kehadiran mahasiswa dari luar daerah di Kota Palangka Raya memberi dampak besar bagi ekonomi lokal. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Palangka Raya tahun 2022 mencatat ada 6.366 mahasiswa yang menempuh pendidikan di kota ini. Angka ini menunjukkan bahwa Palangka Raya menjadi kota tujuan pendidikan bagi banyak orang dari berbagai daerah.
Sebagai kota pendidikan, Palangka Raya menarik mahasiswa dari dalam dan luar Kalimantan. Mobilitas ini memunculkan aktivitas ekonomi baru. Dampaknya terlihat pada tumbuhnya berbagai usaha, seperti kuliner, transportasi, dan jasa harian.
Mahasiswa luar daerah juga berperan sebagai konsumen aktif. Mereka meningkatkan permintaan barang dan jasa di kota ini. Kondisi ini ikut mendorong perkembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), seperti warung makan, laundry, percetakan, dan jasa transportasi. Sebagian mahasiswa juga menjalankan usaha sendiri, sehingga membuka peluang kerja baru di lingkungan sekitar kampus.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pengeluaran mahasiswa umumnya digunakan untuk kebutuhan dasar. Seperti makanan, tempat tinggal, transportasi, dan kebutuhan kuliah. Uang saku dan gaya hidup juga memengaruhi pola belanja mereka. Akibatnya, usaha di sekitar kampus mendapat permintaan yang stabil.
Secara umum, ekonomi Kota Palangka Raya terus tumbuh. Pada 2024, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) mencapai Rp26.236,5 miliar, naik dari Rp24.175,4 miliar pada 2023. PDRB atas dasar harga konstan juga meningkat dari Rp12.490,6 miliar menjadi Rp13.316,9 miliar pada periode yang sama. Pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 6,62 persen, menunjukkan kondisi ekonomi yang cukup sehat.
Namun, pertumbuhan ini tidak bisa langsung dikaitkan hanya dengan keberadaan mahasiswa. PDRB dipengaruhi banyak faktor ekonomi daerah. Mahasiswa lebih tepat dilihat sebagai bagian dari aktivitas ekonomi skala kecil dalam sistem yang lebih besar.
Di sisi lain, ada masalah yang muncul, terutama soal tempat tinggal. Permintaan kos meningkat, tetapi jumlahnya tidak selalu mencukupi. Data tahun 2024 menunjukkan 74,17 persen rumah tangga sudah memiliki rumah sendiri, sedangkan 25,83 persen masih menyewa atau mengontrak. Ini menunjukkan kebutuhan rumah sewa masih tinggi, termasuk untuk mahasiswa.
Ketidakseimbangan antara permintaan dan ketersediaan kos membuat harga sewa naik. Kondisi ini cukup membebani mahasiswa, terutama yang berasal dari keluarga berpenghasilan menengah ke bawah. Selain itu, sebagian kos dibangun tanpa standar yang baik, sehingga kualitas, keamanan, dan kenyamanan sering tidak terjamin. Jika dibiarkan, hal ini dapat memengaruhi kesejahteraan mahasiswa dan citra kota sebagai kota pendidikan.
Untuk mengatasi hal ini, pemerintah daerah perlu melibatkan sektor swasta dalam penyediaan kos mahasiswa. Pemerintah bisa mempermudah perizinan, menyederhanakan aturan, serta memberi insentif seperti keringanan pajak atau kemudahan akses pembiayaan. Tujuannya agar investor tertarik membangun kos yang layak dan terjangkau.
Di saat yang sama, pemerintah perlu tetap melakukan pengawasan. Standar minimum fasilitas harus ditetapkan dan dicek secara berkala. Penataan kawasan hunian mahasiswa juga penting agar lingkungan tetap aman dan nyaman.
Perguruan tinggi juga bisa ikut berperan. Kampus dapat membangun atau menambah asrama dengan biaya lebih terjangkau. Kampus juga bisa bekerja sama dengan pemilik kos di sekitar kampus untuk memastikan standar harga dan fasilitas yang lebih baik. Dengan begitu, mahasiswa memiliki lebih banyak pilihan tempat tinggal yang aman dan terjangkau.
Selain itu, pemerintah daerah perlu menata dan mengawasi kos yang sudah ada. Pendataan ulang penyedia kos perlu dilakukan, disertai penetapan standar kelayakan. Pemilik kos juga perlu mendapat sosialisasi tentang pengelolaan yang baik. Penggunaan teknologi, seperti platform digital informasi kos, dapat membantu mahasiswa mencari tempat tinggal sesuai kebutuhan dan anggaran.
Dengan pengelolaan yang baik, keberadaan mahasiswa luar daerah tidak hanya menjadi beban, tetapi juga penggerak ekonomi. Kerja sama antara pemerintah, kampus, masyarakat, dan mahasiswa menjadi kunci agar Palangka Raya berkembang sebagai kota pendidikan yang tertata, inklusif, dan berkelanjutan.
Refandika Fauzirgi Jaya Ramadan
Mahasiswa Program Studi S-1 Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Palangka Raya angkatan 2025. Berminat pada isu ekonomi daerah, pembangunan perkotaan, dan dinamika sosial mahasiswa dalam mendukung pertumbuhan ekonomi lokal.
www.tabalien.com








