PALANGKA RAYA, TABALIEN.com – Ritual Tiwah massal digelar di rumah Yepri Duga di Kota Palangka Raya sebagai bagian dari pelaksanaan adat Dayak Ngaju dalam mengantarkan arwah leluhur menuju lewu tatau atau alam arwah.

Tiwah merupakan salah satu upacara adat masyarakat Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah yang dilaksanakan beberapa tahun setelah proses pemakaman pertama. Ritual ini bukan merupakan pemakaman jenazah yang baru meninggal, melainkan prosesi pengantaran tulang belulang leluhur ke tempat peristirahatan terakhir.

Pelaksanaan Tiwah melibatkan berbagai tahapan adat yang dipimpin oleh basir atau balian sebagai pemimpin ritual.

Tahapan Pelaksanaan Ritual Tiwah

Dalam prosesi Tiwah terdapat sejumlah tahapan yang dijalankan secara adat.

Tahapan pertama adalah nyakir tulang, yakni pengambilan dan pembersihan tulang leluhur yang kemudian dimandikan menggunakan air kelapa dan ramuan tertentu.

Tahap berikutnya adalah manyanggar atau ritual tolak bala yang dipimpin oleh basir atau balian. Ritual ini bertujuan agar seluruh rangkaian acara berlangsung dengan lancar.

Setelah itu dilakukan menantar tulang, yakni arak-arakan peti tulang yang diiringi gong, tarian, dan pemberian sesaji oleh masyarakat.

Prosesi dilanjutkan dengan penguburan kedua, yaitu penempatan tulang ke dalam sandung yang baru. Sandung tersebut menjadi simbol penghormatan kepada leluhur.

Pesta Adat Menjadi Bagian Ritual

Rangkaian Tiwah juga diisi dengan pesta adat yang berlangsung pada 16 dan 17 Juni 2026.

Kegiatan tersebut meliputi tarian adat, tabuhan musik tradisional, serta penyembelihan hewan kurban sebagai bagian dari pelaksanaan ritual.

Selain menjadi bagian dari tradisi, pelaksanaan Tiwah juga menjadi sarana mempererat hubungan keluarga dan masyarakat.

Makna utama Tiwah adalah mengantarkan arwah leluhur agar memperoleh ketenangan sekaligus memperkuat hubungan keluarga yang masih hidup.

Pelaksanaan Tiwah Dilakukan Secara Bersama

Dalam pelaksanaannya, keluarga yang memiliki hubungan dengan leluhur biasanya melaksanakan Tiwah secara bersama-sama.

Pelaksanaan secara kolektif dilakukan untuk meringankan biaya dan mempermudah penyelenggaraan ritual adat yang membutuhkan persiapan besar.

Tradisi ini juga menjadi bentuk gotong royong masyarakat dalam menjaga dan melestarikan adat Dayak Ngaju yang masih hidup di Kalimantan Tengah.