PALANGKA RAYA, TABALIEN.com – Kekeringan selama periode kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berdampak terhadap sektor pertanian di Kota Palangka Raya. Berdasarkan pendataan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distanketpang), luas lahan pertanian yang mengalami kekeringan mencapai 1.402 hektare.
Kepala Distanketpang Kota Palangka Raya, Sugiyanto, mengatakan kekeringan menjadi salah satu dampak paling besar yang dirasakan petani selama periode karhutla.
“Dampak dari karhutla itu sebenarnya yang paling berdampak adalah karena kekeringan. Jadi, dengan kekeringan ini, salah satunya ada 1.402 hektare yang memang mengalami kekeringan,” ujarnya, Selasa (3/11/2026).
Sementara itu, luas lahan pertanian yang terdampak langsung akibat kebakaran tercatat mencapai 99,5 hektare. Data tersebut menunjukkan kekeringan menjadi persoalan serius yang memengaruhi aktivitas pertanian masyarakat.
Sugiyanto menjelaskan, dampak yang dialami petani tidak hanya berupa kegagalan panen pada tanaman yang sudah memasuki masa produksi, tetapi juga kegagalan memulai penanaman karena keterbatasan pasokan air.
“Ini kebetulan bukan gagal panen saja, ada juga yang gagal tanam. Jadi, begitu petani mau menanam, tetapi kondisi kekeringan membuat tanaman tidak bisa berkembang sebagaimana mestinya,” jelasnya.
Salah satu dampak kekeringan terjadi pada lahan pertanian di Kelurahan Pager. Tanaman padi yang ditanam di lahan seluas sekitar 5,5 hektare mengalami puso atau gagal panen akibat kekurangan air.
Dampak serupa juga dirasakan petani di sejumlah kawasan lain, termasuk Kelurahan Pahandut dan Kalampangan. Selain tanaman padi, komoditas hortikultura seperti cabai turut mengalami gangguan pertumbuhan dan produksi.
“Di beberapa wilayah memang ada yang gagal tanam, termasuk di daerah Pahandut dan Kalampangan. Ada juga penanaman cabai yang tidak sampai berbuah. Jadi, bukan semuanya gagal panen, tetapi produksinya mengalami penurunan,” ungkapnya.
Terkait nilai kerugian yang dialami petani, Sugiyanto mengatakan pihaknya belum dapat memastikan jumlah keseluruhan. Hal ini karena dampak kekeringan cukup beragam, mulai dari gagal tanam, gagal panen, hingga penurunan hasil produksi.
Meski demikian, Distanketpang terus berupaya mendukung pemulihan sektor pertanian melalui sejumlah stimulus, termasuk penyediaan bantuan bibit bagi masyarakat.
Langkah tersebut diharapkan dapat membantu petani kembali menjalankan kegiatan pertanian, terutama menjelang musim penghujan. (Mth).
