Hanya Tersisa Dua, Badak Kalimantan Terancam Punah
PALANGKA RAYA, TABALIEN.com – Badak Kalimantan (Dicerorhinus sumatrensis harrissoni), subspesies dari Badak Sumatera, kini berada di ambang kepunahan dengan hanya dua individu betina yang masih terpantau keberadaannya di alam liar, yakni Pahu dan Pari, sementara tidak ada individu jantan yang berhasil teridentifikasi di hutan Kalimantan.
Kondisi ini mendorong Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati menyatakan status darurat bagi keberadaan badak di Kalimantan. Para ahli, peneliti, dan pegiat konservasi kini tengah merumuskan langkah penyelamatan yang mendesak.
Secara global, populasi badak bercula dua ini memang sudah sangat terbatas. Jumlah gabungan Badak Jawa dan Badak Sumatera di Indonesia diperkirakan kurang dari 100 ekor, namun kondisi di Kalimantan jauh lebih kritis.
Penurunan populasi terjadi akibat kombinasi berbagai faktor. Perburuan ilegal untuk mengambil cula, ekspansi perkebunan, kegiatan pertambangan, serta pembukaan hutan skala besar menjadi penyebab utama habitat mereka terfragmentasi selama bertahun-tahun.
Sebagai hewan soliter dengan wilayah jelajah luas, badak membutuhkan kawasan hutan yang terhubung untuk dapat bertemu pasangan. Ketika hutan terpecah-pecah, peluang reproduksi alami menjadi nyaris mustahil.
Publik sempat memiliki harapan pada 2015, saat kamera jebak merekam keberadaan seekor badak betina bernama Najaq di hutan Kalimantan. Namun harapan itu padam setahun kemudian ketika Najaq ditemukan mati akibat infeksi parah setelah terjerat perangkap liar.
Salah satu opsi penyelamatan yang tengah dikaji adalah memindahkan individu tersisa ke fasilitas konservasi terkontrol untuk menjalani program reproduksi berbantuan, termasuk kemungkinan inseminasi buatan. Proses ini memerlukan perencanaan matang mengingat risiko stres fatal yang dapat dialami satwa selama pemindahan.
Pencarian kemungkinan adanya individu jantan yang belum terdeteksi juga terus dilakukan melalui patroli intensif dan pemantauan kamera jebak di sejumlah kawasan hutan Kalimantan.
Di sisi lain, tekanan lingkungan terhadap habitat badak tidak berhenti. Pencemaran di sejumlah kawasan industri serta alih fungsi lahan terus menggerus kualitas ekosistem yang menjadi tumpuan kehidupan satwa langka ini.
Upaya penyelamatan Badak Kalimantan membutuhkan kolaborasi lintas sektor, mencakup pemerintah, ilmuwan, lembaga konservasi internasional, hingga masyarakat lokal yang tinggal di sekitar kawasan hutan. Indonesia sebelumnya pernah menunjukkan keberhasilan menjaga populasi Badak Jawa melalui pengamanan ketat di habitatnya, namun kondisi Badak Kalimantan dinilai jauh lebih genting karena cadangan genetiknya nyaris tidak tersisa.
Dengan hanya tersisa Pahu dan Pari, para ahli konservasi menegaskan, kegagalan dalam upaya reproduksi akan menempatkan subspesies ini pada risiko kepunahan permanen dalam waktu dekat.





