Jelang Pemilihan, Akademisi Dorong Rektor UPR Perluas Jejaring

Dosen Senior Universitas Palangka Raya, Sidiq Usop, saat memberikan keterangan kepada wartawan terkait harapan terhadap calon rektor UPR menjelang proses pemilihan di Palangka Raya.

PALANGKA RAYA, TABALIEN.com – Menjelang pemilihan rektor baru Universitas Palangka Raya (UPR), dosen senior Sidiq Usop menilai pemimpin kampus ke depan perlu memperkuat jejaring internasional dan mencari sumber pendanaan alternatif guna mendukung pengembangan perguruan tinggi di Kalimantan Tengah.

Sidiq menyampaikan pandangan tersebut di Palangka Raya, Kamis (09/04/2026) malam. Ia mengatakan, rektor tidak cukup hanya memiliki kemampuan administratif, tetapi juga harus memiliki kapasitas manajerial serta jaringan luas di tingkat nasional maupun internasional.

Menurutnya, ketergantungan kampus pada anggaran pemerintah pusat perlu dikurangi dengan membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk lembaga internasional dan sektor non-pemerintah.

“Kalau kita hanya mengharapkan dana dari pusat saja, itu tidak cukup. Rektor harus punya kemampuan menarik dana sosial, dana dari luar, bahkan dari luar negeri,” ujarnya.

Ia menambahkan, peran strategis rektor lebih banyak berada pada agenda eksternal, seperti membangun hubungan dengan instansi, dunia usaha, dan mitra luar kampus. Sementara urusan internal telah ditangani oleh jajaran wakil rektor yang membidangi akademik, keuangan, dan kemahasiswaan.

“Rektor itu bukan duduk di meja saja. Urusan dalam sudah ada wakil rektor. Justru rektor harus lebih banyak keluar,” tegasnya.

Sidiq juga menilai kemampuan komunikasi dan jejaring menjadi indikator penting dalam menilai calon rektor. Hal itu dapat terlihat dari upaya mendorong dosen dan mahasiswa terlibat dalam penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta kontribusi nyata bagi pembangunan daerah.

Ia menekankan, pendidikan tinggi tidak lagi hanya berfokus pada teori, tetapi juga harus memperkuat keterampilan dan praktik agar lulusan mampu berkontribusi langsung di masyarakat.

“Kita tidak lagi mendidik orang hanya untuk tahu, tapi bagaimana pengetahuan itu bisa digunakan untuk membangun masyarakat,” jelasnya.

Dalam menghadapi bonus demografi 2045, Sidiq mengingatkan generasi muda perlu dibekali keterampilan agar mampu menciptakan lapangan kerja maupun terserap di dunia kerja.

“Kalau tidak punya keterampilan, mereka akan jadi beban, bukan kontribusi bagi ekonomi,” ujarnya.

Ia juga mendorong penguatan pendidikan vokasi, seperti program diploma, untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja terampil. Selain itu, perguruan tinggi diharapkan aktif menjalin kerja sama dengan pemerintah daerah dan sektor industri, termasuk dalam pengembangan potensi daerah seperti agribisnis dan perikanan.

Menurutnya, kampus harus menjadi ruang lahirnya gagasan kreatif melalui dialog dan diskusi antara dosen dan mahasiswa.

“Kampus itu tempat mengembangkan ide-ide baru. Dialog, diskusi, itu penting untuk membangun pola pikir yang berkembang,” katanya.

Sidiq juga mengingatkan agar dinamika politik kampus dalam proses pemilihan rektor dapat diminimalkan, sehingga proses seleksi lebih menekankan pada visi serta kapasitas kepemimpinan calon.

“Kita butuh rektor yang punya visi jauh ke depan, berpikir lokal, nasional, sampai global. Nah itulah yang kita harapkan,” pungkasnya.