Pakai Ponsel, Warga Kapuas Hulu Pantau Satwa Liar di Hutan Kalimantan
KAPUAS HULU, TABALIEN.com – Sebanyak 567 warga dari empat desa di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, berhasil mengumpulkan lebih dari 58 ribu data pengamatan satwa liar menggunakan aplikasi ponsel bernama Kehatiku sejak program sains warga diluncurkan pada 2023, dengan biaya operasional hanya sekitar 5 persen dari total ongkos survei konvensional.
Program ini digagas oleh peneliti satwa liar Erik Meijaard bersama timnya, yang bekerja langsung dengan masyarakat yang mengelola hutan melalui skema perhutanan sosial. Siapa pun yang memiliki ponsel pintar dapat mencatat temuan satwa, mulai dari foto orangutan hingga rekaman suara owa, lengkap dengan koordinat GPS.
Warga yang observasinya lolos verifikasi berlapis akan mendapatkan imbalan finansial. Nilainya berkisar dari Rp10 ribu per rekaman suara burung hingga Rp100 ribu untuk foto atau video orangutan liar yang jelas.
Data yang terkumpul menunjukkan hasil yang melampaui perkiraan awal. Spesies yang paling banyak dicatat adalah orangutan dengan 9.766 catatan sarang, diikuti murai batu ekor putih, beruang madu, monyet ekor panjang, dan lebah kelulut.
Pengamatan langsung orangutan Kalimantan dan rekaman rutin suara owa membuktikan, spesies-spesies ini masih bertahan di luar kawasan lindung, yakni wilayah yang selama ini jarang tersentuh survei resmi.
Survei sosial awal yang dilakukan pada awal 2025 menunjukkan adanya perubahan persepsi masyarakat terhadap satwa liar. Lebih dari 70 persen warga di empat desa percontohan telah mendengar program ini, dan hampir dua pertiga menyatakan tertarik untuk ikut serta.
Sekitar sepertiga peserta sudah memperoleh pendapatan dari observasi yang terverifikasi, berkisar antara Rp500 ribu hingga Rp3 juta setiap tiga bulan. Angka ini cukup berarti bagi masyarakat yang rata-rata berpenghasilan kurang dari Rp2 juta per bulan.
Dampak program tidak hanya terasa pada aspek ekonomi. Burung kicau yang sebelumnya kerap ditangkap dan dijual kini lebih sering dibiarkan hidup di hutan, karena warga menyadari nilai lebih dari melaporkan keberadaan satwa dibanding menangkapnya.
Tingkat partisipasi warga pun melonjak drastis setelah sistem pembayaran diberlakukan. Laporan observasi naik dari sekitar 17 catatan per desa per bulan pada fase sukarela menjadi lebih dari 6 ribu per bulan, dengan biaya rata-rata hanya sekitar Rp13 ribu per observasi.
Program ini juga memperkuat tata kelola desa. Melalui pertemuan rutin dan grup WhatsApp, warga membahas hasil verifikasi, mengusulkan perubahan aturan, dan memutuskan bersama cara mengelola pembagian insentif.
Erik Meijaard menyampaikan, model pemantauan berbasis masyarakat ini berpotensi diterapkan di ribuan desa lain di Indonesia seiring meratanya jaringan seluler dan sistem pembayaran digital.
“Ilmu pengetahuan dan kepedulian akan berkembang ketika semua orang bisa berperan dan mendapatkan imbalan yang adil atas kontribusinya,” tulisnya.
(Artikel ini dilansir dari The Conversation Indonesia: Bagaimana sains warga membantu dokumentasi keanekaragaman hayati di desa-desa terpencil Kalimantan)








