Populasi Orangutan Kotim Kian Mengkhawatirkan

Induk orangutan bersama bayinya mencari makan di hutan Kalimantan. Populasi satwa dilindungi ini terus menurun akibat kerusakan habitat. Foto: BOSF/Yanto

SAMPIT, TABALIEN.com – Populasi orangutan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) semakin menurun dan masuk kategori mengkhawatirkan. Kondisi ini diungkapkan Komandan BKSDA Resort Sampit, Muriansyah, saat dimintai tanggapannya terkait nasib satwa dilindungi tersebut.

Ia menyebut, BKSDA memang tidak memiliki data pasti jumlah orangutan di Kotim. Namun, berdasarkan pengamatan lapangan, populasinya terus berkurang, terutama di luar kawasan konservasi.

“Kalau data populasi orangutan di Kotim, saya tidak punya. Tapi dari hasil pengamatan, populasinya makin menurun, terutama yang berada di luar kawasan konservasi,” kata Muriansyah, Senin (22/9/2025).

Menurutnya, faktor utama penurunan populasi orangutan adalah kerusakan habitat. Perusakan kawasan hutan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta perburuan liar disebut menjadi ancaman nyata bagi satwa endemik Kalimantan tersebut.

“Kerusakan habitat, perburuan liar, dan karhutla itu penyebab utama. Jadi kalau di luar kawasan konservasi, orangutan semakin terdesak,” tegasnya.

Selain orangutan, isu mengenai keberadaan satwa langka juga mencuat. Di Kalimantan Timur (Kaltim), ditemukan populasi gajah kalimantan dan badak kalimantan, meski sebelumnya kedua satwa ini tidak dikenal sebagai fauna endemik Pulau Kalimantan.

“Kalau gajah dan badak itu bukan di Kalteng, tapi di Kaltim. Jadi saya tidak bisa memberi keterangan banyak. Gajah dan badak jumlahnya lebih sedikit,” jelas Muriansyah.

Ia menambahkan, temuan tersebut sudah dipublikasikan beberapa tahun lalu oleh peneliti dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Meski begitu, ia menegaskan hanya mengetahui informasi itu sebatas pengetahuan umum.