Swasembada Buka Peluang Usaha Penggilingan Kotim
PALANGKA RAYA, TABALIEN.com – Program swasembada pangan nasional membuka peluang usaha sektor pertanian di Kabupaten Kotawaringin Timur. Usaha pengeringan gabah dan penggilingan beras menjadi sektor yang menjanjikan seiring meningkatnya produksi padi lokal.
Kepala Perum Bulog Kantor Cabang Kotawaringin Timur Muhammad Azwar Fuad mengatakan program ini berpotensi menggerakkan ekonomi daerah. “Selain serapan gabah, ada peluang untuk bikin usaha pengeringan dan penggilingan. Mudah-mudahan ini bisa jadi penggerak ekonomi di Kotim,” ujarnya di Sampit, Senin.
Kenaikan harga pembelian pemerintah (HPP) menjadi Rp6.500 per kilogram gabah kering panen memotivasi petani. Kondisi ini mendorong petani berlomba meningkatkan produksi dan menambah luas tanam.
Dampaknya, pabrik pengeringan gabah dan penggilingan beras mulai kewalahan melayani permintaan. Kondisi ini terutama terjadi di wilayah selatan seperti Desa Lampuyang yang merupakan sentra padi Kotawaringin Timur.
Sebelumnya, sebagian besar gabah hasil panen petani wilayah selatan dibeli tengkulak. Tengkulak kemudian membawa gabah ke Banjarmasin untuk digiling menjadi beras. Beras tersebut dipasarkan di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.
Kondisi itu membuat pabrik pengeringan dan penggilingan di Kotawaringin Timur kurang beroperasi optimal. Kini dengan program swasembada dan petani menjual hasil panen ke Bulog, proses pengeringan dilakukan di daerah sendiri.
Semakin banyaknya gabah yang diserap Bulog membuat pabrik harus bekerja ekstra. Saat ini masih banyak petani menjemur gabah secara manual karena tidak bisa menunggu antrean di pabrik.
Gabah yang diserap Bulog harus mencapai standar kadar air 14 persen. Jika dipaksakan digiling dengan kadar air belum sesuai standar, beras yang dihasilkan akan pecah dan kualitasnya berkurang.
Perum Bulog Kantor Cabang Kotawaringin Timur yang melayani Kabupaten Kotawaringin Timur, Katingan, dan Seruyan menargetkan penyerapan gabah minimal 1.700 ton pada 2025. Bulog optimistis mencapai target tersebut.
Azwar Fuad memperkirakan masih perlu dibangun 3-4 pabrik pengering dengan kapasitas 30 ton. Hal ini untuk mengimbangi hasil panen yang ada. “Potensi panen yang ada di Lampuyang sekali masa panen itu bisa 4.000 sampai 5.000 ton,” ujarnya.
Bulog mendorong investor berinvestasi di bidang ini karena potensinya masih terbuka. Persyaratan membuka usaha penggilingan yang bermitra dengan Bulog cukup mudah. Calon investor hanya perlu melampirkan KTP, NPWP, NIB, dan buku rekening.
“Tidak mesti harus berbentuk usahanya CV, tapi perorangan pun boleh. Yang penting dia dalam NIB menyebutkan bahwa usahanya adalah penggilingan dan pengeringan padi,” kata Azwar Fuad.












