Musisi Hadapi Tantangan dengan ‘Peringatan Darurat’

Program tersebut mencakup berbagai layanan hukum, seperti konsultasi hukum, pembuatan opini hukum tertulis, somasi, pendampingan mediasi, pelaporan kepada instansi terkait, serta pendampingan dalam proses penyidikan, penuntutan, dan persidangan. Layanan ini utamanya berlaku di wilayah Jabodetabek, namun ada rujukan untuk pengacara terdekat di area lainnya.

Selain dukungan hukum, komunitas seni juga menunjukkan solidaritas. Koalisi Seni, misalnya, meluncurkan situs kebebasanberkesenian.id untuk menyediakan platform bagi seniman yang mengalami intimidasi. Situs ini bertujuan untuk mencatat pelanggaran terhadap kebebasan berkesenian dan memperkuat advokasi untuk hak asasi manusia dan kebebasan berekspresi.

Koalisi Seni menekankan pentingnya perlindungan terhadap kebebasan berkarya.

“Kami ada untuk melindungi kebebasan berkarya dan bersuara. Kebebasan berkesenian adalah hak kita sebagai warga negara yang harus diperjuangkan,” tulis mereka di Instagram.

Data yang dikumpulkan melalui situs ini diharapkan dapat digunakan untuk merumuskan kebijakan yang lebih mendukung kebebasan berkesenian.

Di tengah ketegangan ini, musisi juga mencari solusi kreatif untuk menyampaikan pesan mereka. Baskara Putra, yang dikenal sebagai Hindia, mengusulkan penggunaan bendera sebagai alternatif visual. Dalam unggahan di akun X pada 25 Agustus 2024, Hindia menuliskan, “Karena adanya pelarangan visual ‘berbau politik’, kami siapkan versi file untuk cetak bendera yang bisa dicetak dalam ukuran besar.”

Hindia menjelaskan bahwa bendera yang dipasang oleh anggota band sendiri, bukan tim produksi, akan lebih sulit diganggu.