BRGM Perlu Optimalisasi Infrastruktur Pembasahan Gambut Hadapi Musim Kemarau

Kepala Kelompok Kerja Kerjasama, Hukum, dan Hubungan Masyarakat BRGM Didy Wurjanto memamerkan sekat kanal yang dibangun BRGM di Desa Tumbang Nusa, Kabupaten Pulang Pisau pada tahun 2023 lalu, Rabu (14/8/2024).

Kepala Kelompok Kerja Restorasi Gambut Wilayah Kalimantan dan Papua pada BRGM Jany Tri Raharjo, menyatakan kondisi tinggi muka air di Kalteng saat ini masih berada di antara aman dan siaga.

BRGM melaporkan telah membangun 10.664 unit sumur bor dan 3.184 sekat kanal sejak 2017 hingga 2023 untuk mencegah kebakaran meluas di lahan gambut.

“Dibandingkan 2015, di area restorasi tadi kita paling 5 persen yang terbakar dan ini yang sedang kita tangani. Bagi kita (capaian) 15 atau 10 (persen) itu prestasi tapi belum selesai, masih ada pekerjaan-pekerjaan karena restorasi itu butuh waktu,” kata Jany.

PPK Tugas Pembantuan Restorasi Gambut pada Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Kalteng Imbing Urai, mengungkapkan hanya 6.140 unit sumur bor yang terpelihara dengan baik. Fakta itu bertentangan dengan klaim Jany.

“Dari data sumur bor yang berfungsi di 13 kawasan hidrologis gambut, 4634 sudah uji fungsi dan yang dilakukan pencucian sebanyak 518 dan ada 54 yang dilakukan perbaikan,” katanya.

Silpanus, Ketua Masyarakat Peduli Api Desa Tumbang Nusa, mengakui manfaat sekat kanal yang dibangun tahun 2023. Namun, ia juga mengungkapkan banyak kebakaran terjadi jauh dari lokasi sumur bor.

“Sumur bor di pinggir jalan jaraknya ada yang 500 meter ke belakang tapi kebakarannya jauh dari sumur bor. Di Desa Tumbang Nusa ada 200 titik sumur bor,” kata Silpanus.

Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Kalteng Bayu Herinata, menilai pembasahan tidak menyeluruh dan mendorong evaluasi untuk mencegah kebakaran gambut di masa depan.

“Kalau tidak dievaluasi, akhirnya hanya akan sebatas klaim saja dan fungsi utama untuk pembasahan lahan dan mencegah karhutla tadi tidak berjalan maksimal,” tegas Bayu, Kamis (15/8/2024).